IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Syakieb Sungkar Pamerkan Karya Seni Erotis "Erotika" di Galeri Sika, Ubud, Bali

ED
Minggu, 9 Oktober 2022 | 07:41 WIB
Bagikan
Syakieb Sungkar Pamerkan Karya Seni Erotis "Erotika" di Galeri Sika, Ubud, Bali

Karya Goenawan Mohamad dalam pameran ini, tentu saja puitik. Karya-karya lukisan mas Goen, adalah puisi visual. Hal ini tampak pada lukisan-lukisannya pada pameran ini, mas Goen hemat dengan visual, latar belakang sosok dalam kanvasnya kosong, cenderung gelap, penuh misteri. Dalam karya Pasca orgasme, tampak sosok perempuan tampak belakang dengan cahaya yang membelai sebagian tubuhnya. Sementara sosok pria, tidak lengkap, tanpa kepala, tangan dan kaki, namun dengan genital yang besar dan rehat. Mengapa demikian? Dalam seksualitas, orgasme, adalah puncak bagi laki-laki. Menjadi tujuan utama, selepasnya adalah kepuasan namun juga kelelahan. Beragam imajinasi seksualitas bisa muncul dalam karya mas Goen. Seperti tampak pada karya berikutnya, Hasrat, sosok perempuan dengan gestur yang sedikit aneh dan memegang “burung” beo? Gesturnya seperti sedang mempertanyakan, mengajak berdebat, atau pun kecewa? Sementara karya Anti erotika mengingatkan kita pada sosok Venus of Willendorf. Di bagian bawah tampak sepatu stiletto heels. Seperti menubrukkan seksualitas primordial, -yaitu seks sebagai prokreasi dan kesuburan, melawan kecanggihan seksualitas masyarakat modern, sampai-sampai stiletto heels dapat mebangkitkan hasrat seksual dan menjadi fetish.

Karya-karya dalam pameran ini, menunjukkan seksualitas yang “tersembunyi”. Erotika yang dengan mudah dikawinkan dengan estetik. Para seniman dalam pameran ini lebih intens berpikir mengenai bagaimana berkarya seni dengan topik erotika, mereka pada dasarnya bukan perupa yang dikenal dengan karya-karya beridentitas seni erotis. Kecuali, Syakieb Sungkar dan Linkan, lainnya tidak menunjukkan sejarah seni erotis.

Pada akhirnya , jika erotika dikaitkan dengan seksualitas, maka manifestasinya tidak lepas dari aspek biologis, psikologis, sosiologis dan spiritual yang berakibat pada perkembangan personal dan relasi interpersonal. Karya-karya dalam pameran ini merefleksikan bagaimana konten erotik digambarkan oleh para seniman yang hidup dalam tataran sosial-budaya di Indonesia, saat ini. Sebagian besar karya yang tampil tidak “mengganggu” dan jauh dari vulgar. Bandingkan, misalnya dengan karya-karya Lempad atau karya-karya Erotika dalam seni rupa kontemporer Barat, seperti karya Jeff Koons (made in heaven), atau karya foto Robert Mapplethorpe. Saat ini, seni erotis, tentu memiliki masalah di Indonesia, pada saat seksualitas dan ketelanjangan menjadi hal yang tabu. Bandingkan iklan dan majalah popular beberapa dekade yang lalu dengan saat ini. Namun pada saat yang bersamaan, internet dan komunitas sosial media (yang terbatas) pornografi menyebar dengan mudah. Medan seni rupa Indonesia masih ingat mengenai pemberangusan karya Agus Suwage dalam CP Biennale 2005 yang menampilkan seorang bintang film dan model telanjang, namun bagian-bagian vitalnya ditutupi. Tentu saja, publik tidak memandang bulu, seni atau bukan, sejauh citraannya dipandang melampaui norma-norma yang berlaku, harus digasak. Seperti yang diutarakan oleh Goenawan Mohamad, “Seperti tak henti-hentinya terjadi, yang erotik dalam seni rupa menimbulkan konflik, atau ia sendiri merupakan cetusan konflik – karena tubuh adalah sebuah situs persengkataan.”

@aepsa/*

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.