Super Flu Varian Baru Ganas Melanda AS, Kasus Meroket di New York
ED
Editor
M Purnama Alam
Sabtu, 27 Desember 2025 | 18:00 WIB
VISI.NEWS|JAKARTA -Amerika Serikat tengah menghadapi lonjakan kasus influenza yang disebut lebih ganas dan sangat menular. Varian baru influenza A subclade K menjadi sorotan setelah data terbaru Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan peningkatan signifikan kasus flu, terutama di New York City yang kini masuk wilayah dengan aktivitas flu tertinggi.
Berbeda dari laporan sebelumnya yang berfokus pada data statistik, kali ini sorotan mengarah pada dampak langsung di fasilitas kesehatan. Rumah sakit dan klinik anak melaporkan pasien datang dengan kondisi lebih berat dan gejala yang muncul secara tiba-tiba.
CDC mencatat, sepanjang musim flu ini telah terjadi sekitar 4,6 juta kasus influenza di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut, sekitar 49 ribu pasien harus menjalani rawat inap, sementara hingga 13 Desember tercatat sekitar 1.900 kematian akibat flu. Puncak musim flu diperkirakan masih akan berlangsung hingga Februari, sementara laju penularan belum menunjukkan penurunan.
Mayoritas kasus flu musim ini berkaitan dengan virus influenza A (H3N2). Berdasarkan analisis lebih dari 900 sampel, sekitar 90 persen tergolong influenza A, dan hampir 90 persen dari sampel yang diuji genetik masuk dalam subclade K. Varian ini menyumbang lebih dari separuh kasus flu di Amerika Serikat hingga pertengahan November.
Dokter anak di Weill Cornell Medicine, Dr Amanda Kravitz, menggambarkan situasi musim flu tahun ini sebagai kondisi yang mengkhawatirkan. “Musim flu kali ini benar-benar serius. Kasus yang kami lihat jauh lebih banyak dari biasanya untuk periode ini,” ujarnya kepada CBS Mornings.
Infeksi subclade K berisiko menimbulkan komplikasi serius, mulai dari infeksi telinga dan sinus, bronkitis, pneumonia, hingga berujung pada kematian. Virus H3N2 juga dikenal memicu gejala yang lebih berat dibandingkan infeksi pernapasan umum, seperti demam tinggi, kelelahan ekstrem, nyeri otot hebat, menggigil, muntah atau diare, serta sakit tenggorokan.
Menurut Kravitz, perbedaan utama dengan flu biasa terletak pada intensitas dan kecepatan munculnya gejala. “Gejalanya sangat intens dan muncul dengan sangat cepat,” katanya.
CDC juga mengungkapkan adanya ketidaksesuaian antara varian subclade K dengan komposisi vaksin flu musim ini akibat mutasi virus. Meski demikian, para ahli menegaskan vaksin flu tetap memberikan perlindungan penting terhadap risiko penyakit berat.
“Bahkan dengan adanya varian ini dan ketidaksesuaian vaksin, mendapatkan vaksin flu tetap sangat penting,” kata epidemiolog John Brownstein kepada ABC News.
Ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Andrew Pekosz, menjelaskan bahwa virus influenza memang dapat bermutasi dengan cepat untuk menghindari sistem kekebalan tubuh. “Muncul satu jenis H3N2 yang kuat dan tampaknya memiliki mutasi yang memungkinkan virus ini menghindari kekebalan yang diberikan oleh vaksin,” ujarnya kepada TODAY.com.
Pekosz menyebut subclade K memiliki tujuh mutasi baru dan pertama kali terdeteksi di Eropa pada Juni, setelah penentuan komposisi vaksin flu musim 2025–2026. “Kami menduga bahwa kekebalan dari vaksin tidak akan mengenali virus H3N2 subclade K ini dengan optimal,” katanya.
Penyebaran varian ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Peningkatan kasus juga dilaporkan di Inggris dan Kanada, sementara Jepang lebih awal menyatakan wabah influenza internasional dengan lebih dari 6.000 kasus.CDC menegaskan bahwa perubahan genetik pada subclade K menyebabkan terjadinya antigenic drift dari strain H3N2 yang digunakan dalam vaksin, sehingga kewaspadaan dan langkah pencegahan tetap menjadi kunci di tengah musim flu yang semakin ganas.@fajar
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!