Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Siap Kerja 27 Aug 2026 Cuaca Bandung 27 Agustus 2026, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Siap Kerja 27 Aug 2026 Cuaca Bandung 27 Agustus 2026, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026

Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Siap Kerja

ED
PN
Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:20 WIB
Bagikan
Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Siap Kerja

VISI.NEWS - Sebanyak 99 persen anak muda Indonesia berharap pendidikan yang mereka jalani memberikan lebih banyak pemahaman mengenai cara dunia kerja beroperasi. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 97 persen.

Temuan itu merupakan bagian dari studi Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights, riset yang diinisiasi bersama oleh Federal Express Corporation (FedEx) dan Junior Achievement (JA) serta diterbitkan oleh JA Institute.

Studi tersebut melibatkan lebih dari 4.200 anak muda berusia 15 hingga 22 tahun di 10 negara dan wilayah di Asia Pasifik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 552 responden berasal dari Indonesia.

Riset ini menggambarkan pandangan generasi muda mengenai kesiapan menghadapi dunia kerja di masa depan, termasuk kemampuan praktis dan kewirausahaan, pemahaman terhadap perdagangan global, serta kesiapan menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Studi tersebut dirilis bertepatan dengan peringatan 20 tahun FedEx/JA International Trade Challenge (ITC), sebuah program kolaborasi yang berfokus pada pendidikan kewirausahaan dan perdagangan global bagi generasi muda di Asia Pasifik.

Sejak 2007, program tersebut telah menjangkau lebih dari 54.000 pelajar di kawasan Asia Pasifik. Para peserta mendapatkan pengalaman belajar yang berfokus pada perdagangan global sekaligus mengembangkan keterampilan bisnis, pemecahan masalah, dan kolaborasi lintas budaya.

Di Indonesia, kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis menjadi keterampilan yang paling dianggap penting oleh responden untuk menghadapi dunia kerja dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.

Managing Director FedEx Indonesia Garrick Thompson mengatakan generasi muda Indonesia memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang kuat.

"Anak muda Indonesia memiliki energi, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Mereka tidak hanya ingin mempelajari teori, tetapi juga ingin mendapatkan kesempatan untuk menerapkan kemampuan mereka dalam lingkungan bisnis yang nyata," ujar Garrick.

Menurut dia, perkembangan teknologi seperti AI dan semakin luasnya perdagangan lintas negara membuat kebutuhan terhadap keterampilan praktis semakin penting.

Karena itu, pendidikan formal dinilai perlu dilengkapi pengalaman yang memungkinkan pelajar memahami kondisi dunia kerja secara langsung.

"Melalui kemitraan kami dengan Junior Achievement, FedEx bangga dapat membantu generasi muda Indonesia mendapatkan pengalaman langsung di dunia bisnis. Kami berkomitmen untuk mempersiapkan generasi berikutnya agar dapat sukses dalam perekonomian global," kata Garrick.

Hasil survei juga menunjukkan tingkat kepercayaan diri anak muda Indonesia dalam sejumlah keterampilan praktis berada di atas rata-rata Asia Pasifik.

Sebanyak 78 persen responden Indonesia merasa percaya diri dalam menghasilkan ide atau solusi baru, dibandingkan 61 persen di Asia Pasifik.

Kemudian, 72 persen mengaku percaya diri mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu yang baru tanpa harus diminta atau diarahkan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan yang mencapai 60 persen.

Sebanyak 73 persen responden Indonesia juga merasa percaya diri dapat beradaptasi dengan cepat ketika terjadi perubahan rencana, dibandingkan 62 persen di Asia Pasifik.

Sementara itu, 69 persen merasa percaya diri bekerja secara mandiri dan mengambil keputusan tanpa banyak arahan. Di tingkat Asia Pasifik, angkanya mencapai 59 persen.

Meski memiliki tingkat kepercayaan diri yang relatif tinggi, masih terdapat tantangan ketika anak muda Indonesia menghadapi lingkungan kerja yang tidak terstruktur.

Hanya 43 persen responden Indonesia yang merasa nyaman bekerja tanpa rutinitas tetap. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 56 persen.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi dan berinisiatif yang dimiliki generasi muda perlu terus diperkuat melalui pengalaman menghadapi situasi nyata yang tidak selalu memiliki pola atau prosedur tetap.

Di sisi lain, pola pikir kewirausahaan dinilai memiliki manfaat luas, bahkan bagi mereka yang nantinya tidak memilih menjadi pengusaha.

Sebanyak 95 persen responden Indonesia setuju bahwa pola pikir kewirausahaan dapat membantu seseorang meraih kesuksesan dalam pekerjaan apa pun. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 85 persen.

Anak muda Indonesia juga masih menaruh kepercayaan besar terhadap pendidikan formal. Mereka memperkirakan pendidikan formal akan memberikan sekitar 81 persen bekal yang dibutuhkan untuk sukses dalam karier di masa depan.

Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang mencapai 69 persen.

Temuan ini menunjukkan bahwa keinginan mendapatkan lebih banyak pengalaman dunia kerja bukan berarti generasi muda ingin menggantikan pendidikan formal. Sebaliknya, pengalaman praktis dipandang sebagai pelengkap pendidikan di dalam kelas.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah kesiapan generasi muda menghadapi ekonomi global dan perkembangan AI.

Sebanyak 94 persen responden Indonesia percaya bahwa pemahaman mengenai cara bisnis berjalan di berbagai negara akan relevan dengan karier mereka di masa depan. Namun, hanya 69 persen yang mengatakan sekolah atau universitas mereka telah mengajarkan bagaimana perdagangan lintas negara berlangsung.

Kesenjangan serupa terlihat dalam kesiapan menghadapi AI.

Sebanyak 84 persen anak muda Indonesia memperkirakan mereka perlu bekerja berdampingan dengan AI dalam dunia kerja mendatang. Namun, hanya 70 persen yang merasa pendidikan mereka sudah mempersiapkan penggunaan AI dalam lingkungan kerja nyata.

Responden Indonesia juga memberikan porsi lebih besar terhadap keterampilan digital dan teknologi dalam kurikulum. Prioritas tersebut mencapai 18 persen, dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 12 persen.

Di kawasan Asia Pasifik secara keseluruhan, eksperimen secara mandiri menjadi salah satu sumber pembelajaran AI yang paling banyak digunakan, yakni 42 persen.

Hal tersebut menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya mengandalkan pendidikan formal untuk mempelajari teknologi. Mereka juga aktif mencari pengalaman dan mencoba teknologi secara mandiri.

President and Chief Executive Officer JA Asia Pacific Vivek Kumar mengatakan hasil studi menunjukkan adanya kebutuhan kuat dari anak muda untuk mendapatkan pengalaman langsung di dunia kerja.

Menurut dia, tantangan tersebut menjadi semakin penting karena tingkat pengangguran anak muda di Asia Pasifik mencapai hampir 14 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran orang dewasa.

"Kita tidak bisa berasumsi bahwa bakat saja akan cukup bagi anak muda untuk meraih kesuksesan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk membangun keterampilan praktis, meningkatkan kepercayaan diri, dan memahami bagaimana dunia kerja terus berkembang," ujar Vivek.

JA Asia Pacific, kata Vivek, pada tahun lalu membantu lebih dari 5 juta anak muda mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja melalui dukungan sekolah mitra, guru, relawan, dan mitra korporasi.

Menurut dia, kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan organisasi kepemudaan diperlukan agar generasi muda memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan kemampuan.

Temuan studi juga menunjukkan sejumlah area yang dapat menjadi fokus penguatan pendidikan dan program pengembangan keterampilan generasi muda.

Di antaranya adalah kemampuan menggunakan AI secara bertanggung jawab, menghadapi persoalan bisnis yang tidak terstruktur, serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kelas ke dalam situasi nyata.

Program yang dipimpin industri dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal dinilai dapat membantu anak muda membangun kemampuan mengambil keputusan, beradaptasi, serta memahami dunia bisnis.

Kemampuan tersebut dinilai penting bukan hanya bagi calon pengusaha, tetapi juga bagi calon pekerja dan pemimpin bisnis di masa depan.

Bagi Indonesia, hasil survei ini sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda memiliki tingkat kepercayaan diri yang kuat dalam berinovasi, berinisiatif, beradaptasi, dan bekerja secara mandiri. Namun, terdapat kebutuhan untuk memperbanyak pengalaman praktis agar kemampuan tersebut dapat diterapkan dalam situasi kerja yang sebenarnya.

Kolaborasi FedEx dan JA melalui International Trade Challenge menjadi salah satu upaya untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Selama dua dekade, program ini telah memberikan pengalaman belajar berbasis dunia nyata kepada puluhan ribu pelajar di Asia Pasifik dengan fokus pada kewirausahaan dan perdagangan global.

Studi Shaping Tomorrow’s Workforce – Asia Pacific Youth Insights pada akhirnya memperlihatkan bahwa generasi muda tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademis. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk menguji kemampuan, memahami dunia bisnis, beradaptasi dengan perubahan teknologi, serta memperoleh pengalaman yang relevan sebelum benar-benar memasuki dunia kerja.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.