Strategi Kota Cimahi Kurangi Sampah Pasca Jatah Buang ke TPA Sarimukti Dibatasi
Perempuan akrab disapa Rini itu menjelaskan, produksi sampah Kota Cimahi tiap harinya mencapai 226 ton. Dari jumlah tersebut sebanyak 50 persen merupakan jenis sampah organik, sisanya jenis sampah bisa didaur ulang serta residu.
Maka, sambil berproses solusi di hulu berjalan, akan diberlakukan penanganan pengurangan sampah di sektor tengah yakni pengangkutan sampah yang benar-benar telah dipilah.
"Jadi petugas pengangkut benar membawa sampah yang sudah terpilah. Kalau perlu kita jadwal hari tertentu khusus untuk organik, hari berikutnya anorganik, residu, dan seterusnya. Kita juga imbau pihak swasta melakukan pengolahan pengolahan sampah mandiri karena sekarang ada yang sudah berjalan, ada yang belum," jelas Rini.
Di bagian hilir, DLH Kota Cimahi menyiapkan solusi pengurangan sampah dengan mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong, di Kelurahan Cipageran.
Sejak beroperasi April 2024, TPST penghasil Refuse Derrived Fuel (RDF) atau pelet sampah itu baru bisa menyerap 15 ton sampah dari target awal 50 ton per hari.
"TPST Santiong punya kapasitas 50 ton per hari. Ini akan kita maksimalkan supaya yang dibuang ke Sarimukti benar-benar hanya residu. Saat ini kapasitas TPST Santiong baru 15 ton per hari karena program pemilahan belum berjalan. Ini karena ini berkaitan maka kita optimalkan untuk saling menunjang dari hulu ke hilir. Insyaallah kita bisa cuma buang 17 rit pada November nanti," jelasnya. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!