SpaceX dan xAI Disebut Bahas Merger Jelang IPO Raksasa, Musk Siapkan Langkah Besar di Industri AI
VISI.NEWS | BANDUNG — Ambisi Elon Musk di bidang luar angkasa dan kecerdasan buatan dilaporkan semakin menyatu. SpaceX dan perusahaan AI miliknya, xAI, disebut tengah dalam pembicaraan untuk melakukan merger menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO) besar-besaran tahun ini.
Informasi tersebut terungkap dari sumber yang mengetahui pembahasan internal serta dokumen perusahaan yang ditinjau. Jika terealisasi, penggabungan ini akan menyatukan bisnis roket SpaceX, satelit Starlink, platform media sosial X, serta chatbot AI Grok di bawah satu entitas korporasi.
Langkah ini dinilai sebagai dorongan besar bagi visi Musk membangun pusat data berbasis luar angkasa, sebuah konsep yang ia yakini akan menjadi masa depan komputasi kecerdasan buatan.
“The lowest cost place to put AI will be in space. And that will be true within two years, maybe three at the latest,” kata Elon Musk dalam sebuah forum ekonomi di Davos pekan lalu.
Dalam skema yang dibahas, saham xAI akan ditukar dengan saham SpaceX. Dua entitas baru juga telah didirikan di Nevada untuk memfasilitasi transaksi tersebut. Meski begitu, nilai kesepakatan, alasan utama penggabungan, serta waktu pelaksanaannya masih belum dapat dipastikan.
Sejumlah eksekutif xAI disebut berpotensi mendapat opsi pembayaran tunai sebagai bagian dari transaksi. Namun hingga kini belum ada perjanjian final yang ditandatangani, dan struktur kesepakatan masih bisa berubah.
SpaceX saat ini disebut sebagai perusahaan swasta paling bernilai di dunia, dengan valuasi terakhir sekitar 800 miliar dolar AS. Sementara xAI dilaporkan memiliki valuasi sekitar 230 miliar dolar AS. IPO SpaceX sendiri diperkirakan bisa mendorong valuasinya menembus 1 triliun dolar AS.
Di sisi teknologi, penggabungan ini akan memperkuat strategi Musk membangun infrastruktur AI skala besar. Melalui xAI, ia tengah mengembangkan superkomputer bernama Colossus di Memphis, Tennessee. Di saat yang sama, SpaceX memiliki pengalaman operasional dalam peluncuran satelit dan infrastruktur berbasis orbit.
Konsep pusat data di luar angkasa mengandalkan energi surya untuk menekan biaya operasional komputasi AI yang sangat tinggi. Namun gagasan tersebut juga dinilai berisiko karena memerlukan teknologi baru dan investasi besar, sementara perkembangan industri AI berlangsung sangat cepat dan sulit diprediksi.
Penggabungan xAI ke dalam SpaceX juga berpotensi memperkuat posisi perusahaan dalam kontrak pertahanan Amerika Serikat. Pentagon diketahui tengah mempercepat adopsi AI dalam jaringan militernya.
xAI sendiri telah memperoleh kontrak bernilai hingga 200 juta dolar AS untuk menyediakan produk Grok bagi Departemen Pertahanan AS. Sementara jaringan satelit Starlink dan varian militernya, Starshield, sudah banyak memanfaatkan AI, termasuk untuk manuver satelit otomatis dan pemantauan target di Bumi.
Langkah merger ini bukan yang pertama bagi Musk dalam menggabungkan bisnis yang ia kendalikan. Sebelumnya, ia menggabungkan platform X ke dalam xAI melalui pertukaran saham, serta pernah menggunakan saham Tesla untuk mengakuisisi SolarCity.
Jika kesepakatan SpaceX–xAI benar terwujud, itu akan menjadi salah satu konsolidasi paling signifikan di persimpangan industri antariksa, kecerdasan buatan, dan pertahanan global — sekaligus mempertegas gaya Musk membangun ekosistem teknologi yang saling terhubung di bawah satu visi besar. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!