IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

Soroti Digitalisasi BPJS Kesehatan, Ranny Fahd Arafiq Khawatir Perlebar Kesenjangan Akses

Desi Rossilawati
Kamis, 25 September 2025 | 14:22 WIB
Bagikan
Soroti Digitalisasi BPJS Kesehatan, Ranny Fahd Arafiq Khawatir Perlebar Kesenjangan Akses

VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI, Ranny Fahd Arafiq, menyoroti kebijakan digitalisasi layanan BPJS Kesehatan yang dinilai berpotensi menimbulkan kesenjangan akses antara masyarakat perkotaan dan pedesaan.

Ranny menyebut inovasi digital seperti Mobile JKN, antrean online, layanan WhatsApp Pandawa, dan telekonsultasi memang memudahkan masyarakat di wilayah perkotaan. Namun, kelompok masyarakat lanjut usia, warga desa, serta daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) justru menghadapi kesulitan.

Transformasi digital ini seharusnya menciptakan pemerataan akses. Tapi kenyataannya, di banyak daerah masyarakat masih harus antre panjang dan kesulitan mengurus administrasi karena keterbatasan literasi digital,” ujar Ranny melalui keterangan yang diterima, Kamis (25/9/2025).

Ranny meminta BPJS Kesehatan menjelaskan langkah konkret agar digitalisasi layanan JKN tidak memperlebar jurang ketimpangan antara masyarakat melek teknologi dan warga di daerah yang terbatas aksesnya.

Selain itu, ia juga menyoroti persoalan sistem pengaduan peserta JKN yang dinilai masih tumpang tindih. Saat ini kanal pengaduan tersebar di berbagai lembaga, mulai dari BPJS Kesehatan, Kemenkes, SP4N Lapor!, Ombudsman.

“Karena tidak ada satu pintu nasional yang terintegrasi, laporan peserta rawan tercecer dan tidak bisa dipantau secara transparan. Padahal kepesertaan JKN sudah hampir universal,” tegasnya.

Ranny pun mempertanyakan alasan pemerintah dan BPJS Kesehatan belum menghadirkan sistem pengaduan nasional yang terintegrasi lintas lembaga.

Menurutnya, konsumen berhak mendapat saluran pengaduan yang jelas, sederhana, dan bisa ditindaklanjuti tanpa terjebak birokrasi.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.