Soroti Anjloknya Industri Baja Nasional, Adisatrya Dorong BUMN Garap Tambang Iron Ore
VISI.NEWS | JAKARTA - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Adisatrya Suryo Sulisto, menyoroti merosotnya kinerja industri baja nasional akibat banjirnya produk impor dan minimnya pasokan bahan baku dalam negeri. Hal itu ia sampaikan dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Menurut Adisatrya, hasil penelaahan Komisi VI menunjukkan tingginya impor raw material membuat industri baja semakin tertekan. Selain itu, para pelaku usaha baja dalam negeri juga mengeluhkan penjualan yang menurun drastis dalam 2–3 tahun terakhir.
“Masyarakat baja mengeluh karena usahanya sangat menurun akibat banjirnya produk impor. Bahkan proyek pembangunan pergudangan saja kini banyak menggunakan baja impor,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya indikasi unfair competition, di mana baja impor dapat digunakan secara bebas, terutama pada proyek bangunan yang spesifikasinya tidak ketat.
Berbeda dengan proyek jembatan yang memiliki standar khusus, sehingga baja impor sulit bersaing dengan baja lokal.
Sebelumnya, sejumlah pakar memaparkan bahwa Indonesia sejatinya memiliki cadangan iron ore (bijih besi). Namun minat swasta untuk menggarap komoditas tersebut dianggap rendah.
“Cadangannya ada, tetapi kurang menarik untuk dieksploitasi. Berbeda dengan batu bara dan nikel yang saat ini pertambangannya sangat berkembang,” jelas Adisatrya.
Legislator PDIP tersebut menduga minat rendah itu disebabkan pasar yang terbatas atau regulasi yang kurang menarik bagi investor. Karena itu, Komisi VI mempertimbangkan untuk mendorong BUMN tambang seperti Mind ID dan ANTAM agar masuk lebih jauh dalam pengembangan iron ore nasional.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!