Soeharto dan Marsinah, Dua Pahlawan yang Berlawanan
VISI.NEWS | BANDUNG - Polemik mengenai penganugrahan gelar pahlawan nasional untuk Soeharto dan Marsinah secara bersamaan masih mengemuka. Beberapa akademisi dan aktivis menilai hal ini sebagai upaya transaksional dan manipulasi sejarah yang bertujuan menutupi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu dan menghapus dosa rezim Orde Baru. Marsinah, dikenal sebagai simbol perlawanan kaum buruh, dan Soeharto, mantan Presiden yang memimpin Indonesia selama 32 tahun, dikenal sebagai kepala negara bertangan besi, dan keduanya memiliki latar belakang yang sangat berbeda.
Jusuf Kalla (JK) menyatakan bahwa penetapan tersebut adalah kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat. "Ya, karena kalau sudah diresmikan oleh presiden, itu bukan lagi soal pro-kontra. Sebelumnya memang ada pro-kontra, tapi sekarang kita harus menerima bahwa ini adalah kenyataan. Mungkin saja Pak Harto memiliki beberapa kekurangan, tetapi lebih banyak jasanya bagi negara ini," ujar Jusuf Kalla di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025).
Peneliti dari Institut Kajian Krisis dan Strategi Pembangunan Alternatif, Ruth Indiah Rahayu, berpendapat bahwa Marsinah sebagai pahlawan nasional merupakan strategi pemerintah untuk menetralkan wacana pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto. Menurutnya, kasus pembunuhan Marsinah pada 1993 terjadi di bawah pemerintahan Soeharto, di mana pemerintah saat itu dinilai tidak serius dalam menuntaskan kasus ini. Bahkan, pemerintah yang diduga terlibat dalam rekayasa persidangan yang membebaskan terdakwa, membuat upaya pengusulan Marsinah sebagai pahlawan terasa janggal.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!