SKETSA | Terawan
Kalau begitu apa salahnya Terawan? Saya rasa masalah utamanya karena catatan atau dokumentasi pasien-pasiennya tidak dibuat terbuka sehingga orang sulit mengakses riwayat pasien, jalan pengobatan, dan hasil-hasilnya secara terang benderang. Suatu jenis pengobatan baru harus diujikan dengan hati-hati dan seksama melalui proses percobaan yang berkali-kali dengan standar dan jumlah sampel yang memadai. Itulah mengapa sampai hari ini obat golongan rtPA yang baru disetujui FDA hanya Alteplase. Sedangkan obat-obat lain masih dalam pengujian dan melalui proses panjang, sebelum FDA menyatakan aman untuk mengobati manusia.
Apa yang dilakukan oleh Terawan selama ini adalah mencobakan langsung metodenya kepada pasien, sebelum adanya uji klinis yang diawasi oleh pihak berwenang, misalnya HTA (Health Technology Assessment). Hasil ‘ilmiah’ yang baru ada selama ini adalah getuk tular dari para selebriti, seperti Dahlan Iskan, Butet, Yusril Ihza Mahendra, dan para pembesar seperti Aburizal Bakrie dan Prabowo Subianto yang telah merasakan manfaat dari pengobatan Terawan. Namun hal itu baru sekumpulan statement-statement yang bersifat subyektif, bukan didasarkan pada data-data yang sesuai dengan kaidah kedokteran. Belum cukup untuk menyatakan bahwa DSA atau metode cuci otak itu terbukti manjur secara medis. Apalagi sebagian besar dari para selebriti itu sebenarnya tidak terkena stroke, mereka datang ke Terawan hanya untuk mencegah stroke. Itu juga suatu kesalahkaprahan pengobatan yang harus diluruskan.
Eforia seperti itu kemudian menutup berita atas korban-korban dari metode DSA itu sendiri. Misalnya begini, ada seorang pria yang keadaannya normal, dapat berjalan, berbicara, dan lainnya. Namun beberapa jam setelah terapi cuci otak, orang tersebut mengalami kelumpuhan tangan, kaki, dan bagian tubuh sisi kanan. Atau kasus Gerald Liew, seorang warga negara Singapura, yang sebelumnya sehat walafiat tetapi setelah diterapi Terawan menjadi kehilangan ingatan, memorinya rusak, dan tubuhnya lumpuh. Hal-hal seperti ini tertutup oleh “kemasyhuran” dan “promosi” cara pengobatan Terawan. Kalau sudah begini, siapa yang dapat memeriksa masalahnya, mengingat yang tahu metode cuci otak hanya Terawan dan Tuhan. Hal itu juga memperlihatkan bahwa terapi untuk mencegah stroke itu sebuah dongeng. Karena cara satu-satunya mencegah stroke adalah menjalani hidup sehat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!