SKETSA | Terawan
Sementara Terawan tidak menggunakan obat Alteplase tetapi cairan Heparin. Heparin itu adalah obat pengencer darah yang biasanya digunakan dokter untuk mencegah penggumpalan darah yang mungkin terjadi selama proses operasi, cuci darah, dan transfusi darah. Cara penggunaan heparin adalah dengan disuntikkan ke tubuh, melalui dosis yang terukur dan dilakukan oleh dokter ahli. Heparin bukanlah obat baru, sudah ditemukan pada tahun 1916. Heparin juga mempunyai efek samping, seperti perdarahan yang terus menerus, mimisan, dan adanya darah dalam urin. Namun yang dilakukan Terawan sejak tahun 2004 adalah memasukkan heparin menggunakan kateter melalui pembuluh kaki. Metode ini dikenal sebagai Digital Subtraction Angiography (DSA).
Kurang jelas mengapa Terawan menyisipkan kata digital dalam metode penemuannya itu, karena proses kateter dan menyemprotkan (flushing) heparin yang dilakukannya adalah proses analog bukan digital, apakah penggunaan istilah itu untuk sekedar gagah-gagahan? Metode ini juga dikenal sebagai cuci otak atau brain washing. Saya rasa istilah-istilah ini diciptakan agar mendapat efek pemasaran yang maksimal. Memang sudah ada metode DSA yang diperkenalkan pada tahun 1979 oleh Charles Mistretta, sebagai metode untuk melihat sistem arteri melalui injeksi kontras intra-arteri yang nantinya imagenya akan ditangkap oleh X-ray. Metode itu dipakai untuk memfokuskan citra pembuluh darah. Tak lebih tak kurang. Bukan untuk mencuci otak.
Moh Hasan Machfoed dalam makalahnya yang berjudul “Is the Cerebral Intra-Arterial Heparin Flushing (IAHF), Beneficial for the Treatment of Ischemic Stroke?” mengatakan bahwa tata cara pencucian otak dengan menyemprotkan Heparin pada pengobatan Stroke Iskemik yang akut dan kronis tidak sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku serta tidak memiliki literatur dan pedoman yang mendukung manfaat Heparin tersebut. (jurnal BAOJ Neuro, Volume 2, Issue 1, 013, h. 7, Juni 2019).
Terlepas dari metodenya benar atau tidak bagi orang Amerika, FDA, dan IDI, banyak orang yang merasa bertambah sehat setelah mendapatkan terapi DSA dari Terawan. Teman saya, Butet Kertarajasa, misalnya, setelah berobat dengan Terawan mendapatkan burungnya joss kembali. Ada lagi teman saya, Budi Setiadharma, dulu Preskom PT. Astra International, kemudian bisa membaca koran tanpa kaca mata baca. Selain itu, dengung di kupingnya menghilang setelah diobati Terawan. Bahkan ibunda dari Presiden kita, Jokowi, disembuhkan oleh Terawan dengan metode DSA-nya itu. Sehingga kemudian Terawan diangkat menjadi Menteri Kesehatan. Jokowi sangat menghargai orang yang dapat menciptakan suatu penemuan. Orang-orang yang menemukan sesuatu, misalnya menciptakan aplikasi Gojek, kemudian diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Soal Jokowi kemudian mencopot Terawan dari posisi Menkes, itu hal lain, bukan karena DSA, tetapi karena Terawan tidak mempunyai kemampuan managerial dalam menangani Covid.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!