SKETSA | Somad
Menulis juga memberi kesempatan untuk seseorang berfikir dan berefleksi atas apa yang ditulisnya, mempertanyakan kembali apa dasarnya ia berpikiran demikian. Karenanya menulis itu lebih sulit dari berbicara. Mengingat, apa yang ditulisnya membutuhkan referensi, catatan kaki, dari mana ia bisa berpendapat seperti itu. Kalau ia merujuk pada Al Quran atau Hadits, akan muncul pertanyaan baru, ayat Al Quran yang ia katakan itu berdasarkan tafsir siapa, kitab apa yang digunakannya sebagai referensi. Apakah ia sudah membanding-bandingkan dengan tafsir lainnya. Dan bagaimana pendapatnya sendiri terhadap tafsir-tafsir tersebut. Demikian pula dengan Hadits, perlu pengecekan kembali, apakah ia mutawatir, hasan, dhaif, atau hadits palsu. Membaca dan menterjemahkan Al Quran sebaiknya didasari atas penguasaan bahasa Arab, jadi kuda-kuda atau fondasi untuk berargumennya kuat. Bukan dari searching google atau berdasarkan ‘katanya’.
Penilaian mutu Ustadz di Indonesia, seringkali bukan didasarkan pada pesan atau kebijaksanaan yang disampaikan dalam ceramahnya, tetapi kadar lucu ketika ia berbicara, berapa sering ia membuat jemaah tertawa, berapa banyak keplok yang diberikan hadirin atau betapa hebat ia memaki-maki pejabat. Ujung-ujungnya ia dipanggil Polisi dan kemudian meminta maaf melalui YouTube. Kembali lagi, masalahnya adalah berapa tinggi kadar literasi jamaahnya juga. Saya pernah mendengar khutbah Idul Fitri yang dilakukan oleh seorang terkenal, malah ia pernah menjadi Menteri Agama di masa lalu. Tetapi isi ceramahnya itu menunjukkan kebencian yang akut pada Pemerintah yang sedang berkuasa ketika itu. Ia sebenarnya sedang memberikan orasi politik ketimbang khutbah Idul Fitri yang seharusnya memberi pesan kemenangan dan saling memaafkan.
Ustadz di Indonesia itu sangat bebas, boleh berbicara apa saja, maki-maki, lawak, marah, dan anjuran yang kadang-kadang tidak pantas. Tidak ada filternya dan tidak ada yang mengawasi. Demikian pula tidak ada standarnya, apakah Ustadz itu sudah betul-betul paham agama atau tidak. Yang penting Ustadz itu pintar berbicara. Saya juga tidak menganjurkan agar Pemerintah membungkam atau mensensor Ustadz seperti di zaman Orde Baru, tetapi sebaiknya Menteri Agama itu melakukan semacam review atas ceramah para Ustadz agar masyarakat mendapat ceramah yang baik. Berbeda dengan Arab Saudi yang keras terhadap para Ustadz atau Singapura yang langsung melarang Ustadz Somad dan keluarganya masuk Singapura karena dinilai suka berceramah secara ekstrim. Artinya, menjadi Ustadz di Indonesia itu enak bukan? Bisa dibilang Indonesia itu surganya para Ustadz karena ia boleh berbicara apa saja.***
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!