SKETSA | Somad
Oleh Syakieb Sungkar
USTADZ dalam bahasa Arab artinya adalah Profesor, suatu jabatan tertinggi di Universitas. Karena ia ahli dalam salah satu bidang ilmu pengetahuan, seorang spesialis. Karenanya ia mengajar di depan kelas. Seorang Ustadz itu kerjanya selain mengajar, ia melakukan penelitian dan kajian serta menulis buku atau paper. Dengan itu seorang Ustadz namanya akan muncul dalam jurnal-jurnal ilmiah, google schoolar, google books, Academia, libgens – kalau suka dengan buku bajakan, Scopus dan Sinta. Sehingga orang dapat mengetahui apa jalan pikiran dari si Ustadz tersebut. Argumen-argumen yang mendasari pendapatnya serta referensi apa yang digunakan untuk membangun argumen tersebut.
Kalau di Indonesia - suatu negeri yang menempati ranking ke 62 dari 70 negara yang berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada pada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah – seorang ustadz tidak perlu menulis. Ia cukup mengoceh saja di masjid atau panggung terbuka. Isi ceramahnya merupakan gabungan antara maki-maki Pemerintah, menghina agama lain, humor, yang dibalut dengan pesan-pesan agama. Kadang-kadang seorang Ustadz menggunakan argumen-argumen agama yang salah tafsir dan dapat menjerumuskan orang untuk melakukan macam-macam hal buruk. Dalam ceramah kadang-kadang diungkapkan hal yang aneh, seperti anjuran atau dukungan terhadap bom bunuh diri, ajakan berinvestasi di lembaganya, membeli produk buatannya sendiri, menetapkan sesuatu sebagai haram secara semena-mena, anjuran menceraikan istri, larangan ini-itu, dan banyak hal lain yang lucu-lucu. Kemudian dengan bangga disebarkannya di YouTube agar menjadi viral.
Tidak semua Ustadz seperti itu, masih ada Quraish Shihab yang rajin menulis, membuat buku sampai berjilid-jilid, dan banyak lagi Ustadz-ustadz baik lainnya yang memberi ceramah dengan bijaksana beserta tutur kata yang lemah lembut serta santun. Namun, masyarakat Indonesia yang miskin literasi, malas membaca dan menulis, lebih suka mendengar dan berbicara ketimbang mempelajari suatu kajian ilmiah. Yang verbal dan oral lebih disukai ketimbang yang tertulis. Orang Indonesia lebih suka didongengin (story telling) ketimbang membaca. Padahal, lidah itu tidak bertulang. Hari ini ia ngomong A besok bicaranya sudah lain lagi, malah minus A, yang berlawanan 180 derajat dibanding sebelumnya. Dengan kekuatan retorika, massa menjadi tidak kritis atau tidak menyadari ada kesalahan logika dalam ceramah seorang Ustadz, atau bertentangan sama sekali dengan apa yang ia katakan dulu. Karena ceramahnya lucu atau membangkitkan semangat. Berbeda dengan yang tertulis. Sesuatu yang sudah ditulis itu suatu bukti otentik, apalagi kalau terpublikasi dan kemudian dibukukan, ia tidak bisa mengelak atas apa yang dikatakannya sebelumnya.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!