Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026

SKETSA | Somad

ED
Jumat, 20 Mei 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Somad

Oleh Syakieb Sungkar

USTADZ dalam bahasa Arab artinya adalah Profesor, suatu jabatan tertinggi di Universitas. Karena ia ahli dalam salah satu bidang ilmu pengetahuan, seorang spesialis. Karenanya ia mengajar di depan kelas. Seorang Ustadz itu kerjanya selain mengajar, ia melakukan penelitian dan kajian serta menulis buku atau paper. Dengan itu seorang Ustadz namanya akan muncul dalam jurnal-jurnal ilmiah, google schoolar, google books, Academia, libgens – kalau suka dengan buku bajakan, Scopus dan Sinta. Sehingga orang dapat mengetahui apa jalan pikiran dari si Ustadz tersebut. Argumen-argumen yang mendasari pendapatnya serta referensi apa yang digunakan untuk membangun argumen tersebut.

Kalau di Indonesia - suatu negeri yang menempati ranking ke 62 dari 70 negara yang berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada pada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah – seorang ustadz tidak perlu menulis. Ia cukup mengoceh saja di masjid atau panggung terbuka. Isi ceramahnya merupakan gabungan antara maki-maki Pemerintah, menghina agama lain, humor, yang dibalut dengan pesan-pesan agama. Kadang-kadang seorang Ustadz menggunakan argumen-argumen agama yang salah tafsir dan dapat menjerumuskan orang untuk melakukan macam-macam hal buruk. Dalam ceramah kadang-kadang diungkapkan hal yang aneh, seperti anjuran atau dukungan terhadap bom bunuh diri, ajakan berinvestasi di lembaganya, membeli produk buatannya sendiri, menetapkan sesuatu sebagai haram secara semena-mena, anjuran menceraikan istri, larangan ini-itu, dan banyak hal lain yang lucu-lucu. Kemudian dengan bangga disebarkannya di YouTube agar menjadi viral.

Tidak semua Ustadz seperti itu, masih ada Quraish Shihab yang rajin menulis, membuat buku sampai berjilid-jilid, dan banyak lagi Ustadz-ustadz baik lainnya yang memberi ceramah dengan bijaksana beserta tutur kata yang lemah lembut serta santun. Namun, masyarakat Indonesia yang miskin literasi, malas membaca dan menulis, lebih suka mendengar dan berbicara ketimbang mempelajari suatu kajian ilmiah. Yang verbal dan oral lebih disukai ketimbang yang tertulis. Orang Indonesia lebih suka didongengin (story telling) ketimbang membaca. Padahal, lidah itu tidak bertulang. Hari ini ia ngomong A besok bicaranya sudah lain lagi, malah minus A, yang berlawanan 180 derajat dibanding sebelumnya. Dengan kekuatan retorika, massa menjadi tidak kritis atau tidak menyadari ada kesalahan logika dalam ceramah seorang Ustadz, atau bertentangan sama sekali dengan apa yang ia katakan dulu. Karena ceramahnya lucu atau membangkitkan semangat. Berbeda dengan yang tertulis. Sesuatu yang sudah ditulis itu suatu bukti otentik, apalagi kalau terpublikasi dan kemudian dibukukan, ia tidak bisa mengelak atas apa yang dikatakannya sebelumnya.

Menulis juga memberi kesempatan untuk seseorang berfikir dan berefleksi atas apa yang ditulisnya, mempertanyakan kembali apa dasarnya ia berpikiran demikian. Karenanya menulis itu lebih sulit dari berbicara. Mengingat, apa yang ditulisnya membutuhkan referensi, catatan kaki, dari mana ia bisa berpendapat seperti itu. Kalau ia merujuk pada Al Quran atau Hadits, akan muncul pertanyaan baru, ayat Al Quran yang ia katakan itu berdasarkan tafsir siapa, kitab apa yang digunakannya sebagai referensi. Apakah ia sudah membanding-bandingkan dengan tafsir lainnya. Dan bagaimana pendapatnya sendiri terhadap tafsir-tafsir tersebut. Demikian pula dengan Hadits, perlu pengecekan kembali, apakah ia mutawatir, hasan, dhaif, atau hadits palsu. Membaca dan menterjemahkan Al Quran sebaiknya didasari atas penguasaan bahasa Arab, jadi kuda-kuda atau fondasi untuk berargumennya kuat. Bukan dari searching google atau berdasarkan ‘katanya’.

Penilaian mutu Ustadz di Indonesia, seringkali bukan didasarkan pada pesan atau kebijaksanaan yang disampaikan dalam ceramahnya, tetapi kadar lucu ketika ia berbicara, berapa sering ia membuat jemaah tertawa, berapa banyak keplok yang diberikan hadirin atau betapa hebat ia memaki-maki pejabat. Ujung-ujungnya ia dipanggil Polisi dan kemudian meminta maaf melalui YouTube. Kembali lagi, masalahnya adalah berapa tinggi kadar literasi jamaahnya juga. Saya pernah mendengar khutbah Idul Fitri yang dilakukan oleh seorang terkenal, malah ia pernah menjadi Menteri Agama di masa lalu. Tetapi isi ceramahnya itu menunjukkan kebencian yang akut pada Pemerintah yang sedang berkuasa ketika itu. Ia sebenarnya sedang memberikan orasi politik ketimbang khutbah Idul Fitri yang seharusnya memberi pesan kemenangan dan saling memaafkan.

Ustadz di Indonesia itu sangat bebas, boleh berbicara apa saja, maki-maki, lawak, marah, dan anjuran yang kadang-kadang tidak pantas. Tidak ada filternya dan tidak ada yang mengawasi. Demikian pula tidak ada standarnya, apakah Ustadz itu sudah betul-betul paham agama atau tidak. Yang penting Ustadz itu pintar berbicara. Saya juga tidak menganjurkan agar Pemerintah membungkam atau mensensor Ustadz seperti di zaman Orde Baru, tetapi sebaiknya Menteri Agama itu melakukan semacam review atas ceramah para Ustadz agar masyarakat mendapat ceramah yang baik. Berbeda dengan Arab Saudi yang keras terhadap para Ustadz atau Singapura yang langsung melarang Ustadz Somad dan keluarganya masuk Singapura karena dinilai suka berceramah secara ekstrim. Artinya, menjadi Ustadz di Indonesia itu enak bukan? Bisa dibilang Indonesia itu surganya para Ustadz karena ia boleh berbicara apa saja.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.