SKETSA | Schopenhauer
Schopenhauer mencoba memahami realitas dunia dengan kerangka pemikiran Kant ini. Meski menggunakan kerangka pemikiran Kant, Schopenhauer tidak mengikuti begitu saja pemikiran Kant. Bahkan, Schopenhauer mampu menghasilkan pemikiran yang sangat berbeda dengan Kant, khususnya ketika ia berbicara tentang dunia noumenal. Ia menyebut dunia noumenal itu sebagai kehendak. Sedangkan dunia fenomenal sebagai presentasi.
Dunia sebagai Presentasi
Schopenhauer berpendapat bahwa dunia fenomenal yang kita alami adalah objek bagi subjek. Apa yang kita alami setiap hari, sebagai sebuah kenyataan yang dapat diindrai, merupakan presentasi-presentasi atau gambaran-gambaran mental kita sendiri. Kenyataan fenomenal inilah yang dia sebut sebagai dunia presentasi. Dari dunia yang kelihatan itu, yang dapat kita ketahui hanyalah gejala-gejala. Dalam perkembangan lebih lanjut, gagasan tentang dunia fenomenal ini mendapat pengaruh kuat dari filsafat Timur, khususnya ketika Schopenhauer membaca Upanishad. Schopenhauer menegaskan bahwa dunia presentasi merupakan sebuah penampakan. Oleh karena kenyataan fenomenal itu adalah penampakan, maka dunia itu adalah maya. Akan tetapi, ia tidak berhenti pada yang maya ini. Bagi dia, di balik dunia yang maya ini ada sebuah kenyataan metafisis yang disebutnya dunia kehendak.
Dunia sebagai Kehendak
Kant menyebut dunia Das Ding an Sich sebagai dunia noumenal, kenyataan yang lepas dari persepsi kita. Manusia tidak dapat tahu tentang dunia noumenal ini. Terhadap dunia yang tidak diketahui inilah Schopenhauer memberikan jawaban. Schopenhauer menyebut dunia noumenal ini sebagai kehendak. Kehendak merupakan sebuah realitas transendental yang berada di belakang realitas fenomenal yang kita rasakan. Di sini, Schopenhauer hendak mengatakan juga bahwa realitas pada hakikatnya adalah berupa kehendak. Dengan demikian, di belakang dunia empiris yang kita alami setiap hari, di sanalah terdapat kehendak transendental.
Bagaimana manusia dapat mengetahui kehendak transendental ini? Meskipun menurut Kant kehendak transendental ini tertutup bagi manusia, karena itu kita tidak tahu, Schopenhauer justru memberikan jawaban yang meyakinkan. Bagi Schopenhauer hati merupakan instrumen yang dapat kita pakai untuk mengerti tentang kenyataan transendental ini. Di dalam hati, ditemukan bermacam-macam wujud dari kehendak manusia. Dalam hati manusia ada kerinduan, hasrat, keinginan, harapan, cinta, kebencian, penderitaan, pengertian, dan sebagainya. Schopenhauer menyebut ini semua sebagai pengalaman manusia yang tak terhindarkan. Itulah kehendak.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!