SKETSA | Pangeran Charles
Walau Camilla sudah menikah, mereka tetap berpacaran. Hal itu menjadi suatu problem ketika Charles dijodohkan dengan Diana Spencer, seorang guru TK yang masih kerabat Istana. Diana dilahirkan tahun 1961, usianya berbeda jauh dengan Charles yang lahir tahun 1948. Charles lebih suka hidup di pedesaan, jauh dari keramaian, sementara Diana adalah anak kota yang lebih suka hidup di London dengan disko dan party. Diana seorang gadis ceria berumur 19 tahun dan suka bersosialisasi. Sementara Charles seorang penyendiri, murung, penuh tekanan karena menjadi anak tertua, dan “sok jantan” sebagai kompensasinya (padahal ia dulu bocah culun dan cemen di Gordonstoun). Hanya Camilla yang pandai mengelola kelelakian Charles, dengan cumbu rayu, pujian, dan menuruti kata hati si Pangeran gaek itu. Kemampuan Camilla meluluhkan hati lelaki didapatkan dari neneknya, Alice, yang menjadi gundik Raja Edward VII, buyut dari Charles. Bukankah sejarah selalu berulang?
Singkat cerita, walau dari Diana ia mendapat dua anak lelaki, tetapi sebenarnya Charles tidak cinta-cinta amat kepada istrinya, yang sebenarnya jauh lebih cantik ketimbang Camilla, gundiknya. Pernikahannya di tahun 1981 akhirnya harus berakhir pada tahun 1996 atas saran Elizabeth, ibunya. Ibunya sudah menyadari sejak awal bahwa pernikahan ini tidak akan langgeng karena ketidakcocokan yang sangat lebar. Namun Philip, ayahnya, menganggap oke-oke saja kalau kelak hubungan Charles dan Camilla tidak dapat dipisahkan dan mereka terus berpacaran. Camilla kemudian bercerai dengan Parker Bowles di tahun 1995, karena suaminya sudah tidak tahan dengan kebinalan istrinya. Hal itu justru membuka peluang lebar untuk Camilla lebih bebas berkencan dengan Charles.
Melihat kegagalan Charles membina rumah tangga, membuat Ratu enggan menyerahkan tahtanya ke putra sulungnya itu. Hal ini telah membuat Charles frustasi. Sebagai duda pengangguran, ia jengah dengan kehidupannya yang tanpa status. Mungkin itulah sebabnya Charles suka mengganggu para anggota parlemen dan Menteri-menteri kabinet dengan pendapat-pendapat politiknya yang kontroversial. Sikap seperti itu telah diperingatkan Pemerintah Inggris, karena sebagai anggota Kerajaan ia tidak boleh bicara lancung mencampuri urusan Perdana Menteri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!