SKETSA | Mudik
Untuk saya, keceriaan mudik hilang karena generasi saya lama-lama tua, sibuk dengan hidupnya masing-masing. Sementara para sesepuh sudah meninggal dunia. Tahun ini, satu-satunya Tante yang tersisa pun sudah meninggal dunia. Jadi, keluarga kakek sudah musnah, yang tinggal hanya cucu-cucunya saja, termasuk saya. Rupanya demikian kisah orang kampung, semakin tua mereka sudah lupa dengan desanya, kangennya hilang. Setidaknya itu yang terjadi dengan saya. Pengamatan saya juga demikian, para pemudik itu sebagian besar kaum muda yang orang tuanya masih ada di kampung. Diperkirakan akan ada 85 juta orang mudik. Itu terjadi karena selain Jakarta, mudik intra provinsi juga besar. Orang dari Bandung akan mudik ke Cirebon, Sumedang, Garut, Ciamis, dan seterusnya. Orang Medan mudik ke Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Bagan Siapiapi, dan Sibolga. Apakah kalau mereka tua masih akan mudik juga?
Bagaimana dengan orang Jakarta yang tidak mudik seperti saya? Ada senangnya juga, karena jalan-jalan menjadi sepi. Makan di Mall tidak perlu antri. Hanya, untuk 2 minggu ke depan harus siap dengan mengepel lantai dan cuci piring sendiri. Karena asisten rumah tangga juga ikut mudik.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!