SKETSA | Mudik
Kakek saya pindah ke Jakarta tahun 1952. Alasan ia pindah karena kecewa kepada Republik yang mulai bergeser ke arah Komunisme. Apalagi di tahun 1948 mulai terjadi pengganyangan terhadap orang Arab, alasannya orang seperti kakek saya itu tahunya hanya dagang doang. Padahal tidak demikian, kakek saya sudah menurunkan ketiga anaknya berperang untuk Republik: Abdurrahman, Abdullah dan Abdul Gani. Malah yang terakhir terus berkarir di TNI sampai pensiun. Tetapi memang gerakan PKI di Madiun pengaruhnya terasa sampai Solo ketika itu. Jadi kakek saya tidak nyaman lagi tinggal di kota Solo. Karenanya ia menjual pabrik batiknya yang di Madiun dan Pekalongan sebagai biaya hidup untuk usaha baru di Jakarta. Kakek saya orang modern untuk ukuran saat itu, ia berani naik sepeda sendirian dari Solo ke Madiun dengan membawa pistol. Saat itu hutan di antara Solo dan Madiun masih lebat dan banyak rampoknya. Karenanya, pindah ke Jakarta yang masih belum dikuasainya menjadi urusan kecil bagi kakek saya.
Memang setelah pengakuan kedaulatan dari Belanda tahun 1949, ibu kota kembali dari Yogyakarta ke Jakarta. Mulai tahun 1950 orang-orang dari kota-kota di Jawa juga ikut berpindah ke ibu kota negara. Kakek saya merupakan bagian dari arus urbanisasi itu. Ia ingin mencicipi kota yang lebih egaliter dan mempunyai nafas serta semangat baru. Dan Jakarta yang awalnya hanya berpenduduk 400.000 orang, kemudian mulai dipadati para pendatang. Sehingga hutan dibabat, kebun diratakan, rawa diurug, untuk tempat tinggal, hasilnya penduduk berkembang menjadi 25 juta jiwa pada tahun ini. Begitu tiba di Jakarta, ayah saya kemudian masuk SMA I, di jalan Budi Utomo, dan dilanjutkan berkuliah di Universitas Indonesia. Itulah salah satu keuntungan bermigrasi ke Jakarta, mencicipi pendidikan lanjut. Namun kakek dan ayah saya sejak hidup di Jakarta tidak pernah lagi menginjakkan kakinya: berkunjung ke Cirebon, Solo, Madiun dan Pekalongan, sampai akhir hayatnya. Entah Mengapa. Saya sendiri masih suka ke Solo dan Cirebon sampai masa kuliah. Tetapi setelah lulus dan bekerja, tidak pernah lagi mudik. Kecuali kalau sedang ada tugas kantor di kota itu, nyambangi sekali-sekali kalau sedang tidak sibuk.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!