Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026

SKETSA | Mudik

ED
Selasa, 26 April 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Mudik

Oleh Syakieb Sungkar

MINGGU ini adalah minggu yang gaduh, karena para pegawai siap berkemas-kemas untuk pulang kampung. Pikiran mereka sudah tidak ke pekerjaan lagi. Bagi saya yang punya usaha berhubungan dengan kebutuhan masyarakat, sebetulnya hampir dikatakan tidak ada liburnya. Walau ada penurunan permintaan pada 3 hari pertama Idul Fitri, tetapi di hari ke empat biasanya demand mulai merayap naik dan pada hari ke 8 sudah normal. Tetapi di hari itu hanya 50% pegawai yang siap on site, sisanya masih sibuk berdesak-desakan dan macet dalam perjalanan kembali ke Jakarta dari kampungnya masing-masing. Untuk itu manajemen shift dan cuti harus diatur secara seksama.

Saya sendiri, waktu masih pegawai, hampir tidak pernah mengambil cuti. Karena malas pulang kampung, dan sebenarnya jenis pekerjaan saya adalah jenis mondar-mandir ke lapangan, di luar kota atau luar negeri. Jadi dalam setahun saya mungkin hanya 6 bulan saja berada di rumah, sisanya lebih banyak travelling. Bekerja bagi saya adalah suatu rekreasi dan relaksasi. Buat apa pula saya harus mengambil cuti? Pernah suatu saat kantor saya mengambil kebijakan bahwa semua tabungan cuti karyawan harus dihapuskan. Agar karyawan tidak protes maka tabungan cuti itu dikompensasi dengan uang. Saya yang sudah bertahun-tahun tidak cuti akhirnya diganti dengan uang Rp 168 juta,- kan namanya rejeki nomplok itu.

Alasan malas mudik karena memang kampung saya banyak, saya termasuk orang multi etnis, ada banyak suku bangsa bercampur dalam asal-usul saya. Kakek saya yang keturunan Timur Tengah, lahir di Solo, tinggalnya di jalan Yosodipuran II. Ia menikah dengan nenek saya, orang Cina Palembang yang tinggal di Arjawinangun, Cirebon. Mereka melahirkan 12 orang anak. Dan dibesarkan di banyak kota, karena kakek saya suka berpindah tempat: Solo – Arjiwinangun – Cirebon – Pekalongan – Madiun – Solo lagi – terakhir ke Jakarta. Di Cirebon, masih tertinggal 3 keluarga yang bisa dikunjungi, mereka hidup berpencar: tante saya di Gempol, sepupu tante di Arjawinangun, dan adalagi di jalan Veteran, Cirebon. Di Solo masih ada keluarga tante tertua, tinggal di Sangkrah. Lain lagi dari keluarga ibu saya yang dari Bogor, ada yang di Lolongok, Empang dan Cikaret. Belum lagi keluarga nenek yang di Palembang. Ruwet deh kalau mau disamperin semua. Cara paling praktis adalah kalau Lebaran nongkrong saja di rumah kakek saya yang di Jakarta, nanti semua keluarga akan berdatangan, sehingga - saya yang masih bocah ketika itu - akan kecipratan hadiah Lebaran dari Om dan Tante.

Kakek saya pindah ke Jakarta tahun 1952. Alasan ia pindah karena kecewa kepada Republik yang mulai bergeser ke arah Komunisme. Apalagi di tahun 1948 mulai terjadi pengganyangan terhadap orang Arab, alasannya orang seperti kakek saya itu tahunya hanya dagang doang. Padahal tidak demikian, kakek saya sudah menurunkan ketiga anaknya berperang untuk Republik: Abdurrahman, Abdullah dan Abdul Gani. Malah yang terakhir terus berkarir di TNI sampai pensiun. Tetapi memang gerakan PKI di Madiun pengaruhnya terasa sampai Solo ketika itu. Jadi kakek saya tidak nyaman lagi tinggal di kota Solo. Karenanya ia menjual pabrik batiknya yang di Madiun dan Pekalongan sebagai biaya hidup untuk usaha baru di Jakarta. Kakek saya orang modern untuk ukuran saat itu, ia berani naik sepeda sendirian dari Solo ke Madiun dengan membawa pistol. Saat itu hutan di antara Solo dan Madiun masih lebat dan banyak rampoknya. Karenanya, pindah ke Jakarta yang masih belum dikuasainya menjadi urusan kecil bagi kakek saya.

Memang setelah pengakuan kedaulatan dari Belanda tahun 1949, ibu kota kembali dari Yogyakarta ke Jakarta. Mulai tahun 1950 orang-orang dari kota-kota di Jawa juga ikut berpindah ke ibu kota negara. Kakek saya merupakan bagian dari arus urbanisasi itu. Ia ingin mencicipi kota yang lebih egaliter dan mempunyai nafas serta semangat baru. Dan Jakarta yang awalnya hanya berpenduduk 400.000 orang, kemudian mulai dipadati para pendatang. Sehingga hutan dibabat, kebun diratakan, rawa diurug, untuk tempat tinggal, hasilnya penduduk berkembang menjadi 25 juta jiwa pada tahun ini. Begitu tiba di Jakarta, ayah saya kemudian masuk SMA I, di jalan Budi Utomo, dan dilanjutkan berkuliah di Universitas Indonesia. Itulah salah satu keuntungan bermigrasi ke Jakarta, mencicipi pendidikan lanjut. Namun kakek dan ayah saya sejak hidup di Jakarta tidak pernah lagi menginjakkan kakinya: berkunjung ke Cirebon, Solo, Madiun dan Pekalongan, sampai akhir hayatnya. Entah Mengapa. Saya sendiri masih suka ke Solo dan Cirebon sampai masa kuliah. Tetapi setelah lulus dan bekerja, tidak pernah lagi mudik. Kecuali kalau sedang ada tugas kantor di kota itu, nyambangi sekali-sekali kalau sedang tidak sibuk.

Untuk saya, keceriaan mudik hilang karena generasi saya lama-lama tua, sibuk dengan hidupnya masing-masing. Sementara para sesepuh sudah meninggal dunia. Tahun ini, satu-satunya Tante yang tersisa pun sudah meninggal dunia. Jadi, keluarga kakek sudah musnah, yang tinggal hanya cucu-cucunya saja, termasuk saya. Rupanya demikian kisah orang kampung, semakin tua mereka sudah lupa dengan desanya, kangennya hilang. Setidaknya itu yang terjadi dengan saya. Pengamatan saya juga demikian, para pemudik itu sebagian besar kaum muda yang orang tuanya masih ada di kampung. Diperkirakan akan ada 85 juta orang mudik. Itu terjadi karena selain Jakarta, mudik intra provinsi juga besar. Orang dari Bandung akan mudik ke Cirebon, Sumedang, Garut, Ciamis, dan seterusnya. Orang Medan mudik ke Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Bagan Siapiapi, dan Sibolga. Apakah kalau mereka tua masih akan mudik juga?

Bagaimana dengan orang Jakarta yang tidak mudik seperti saya? Ada senangnya juga, karena jalan-jalan menjadi sepi. Makan di Mall tidak perlu antri. Hanya, untuk 2 minggu ke depan harus siap dengan mengepel lantai dan cuci piring sendiri. Karena asisten rumah tangga juga ikut mudik.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.