SKETSA | Minyak Goreng
Oleh Syakieb Sungkar
SAYA mendapat kiriman video menarik dari para diaspora yang tinggal di Jerman. Video pertama bercerita tentang stok minyak goreng di hampir seluruh kota besar di Jerman tidak tersedia pada supermarket. Sehingga harus berburu minyak goreng di kota-kota yang lebih kecil agar mendapatkan sekantong minyak goreng. Video kedua bercerita bagaimana bapak-bapak berebut minyak goreng seperti berebut barang yang sangat berharga. Apakah di Eropa terjadi pula penimbunan minyak goreng? Memang kita perlu mengirim petugas BIN untuk menemu kenali aktor-aktor yang telah menimbun minyak goreng tersebut.
Beruntung jawaban bisa didapat dengan segera sehingga anggota BIN tidak perlu susah payah menyelidikinya. Sejak tahun lalu memang terjadi anomali cuaca sehingga terjadi kekacauan produksi bunga matahari, yang menjadi bahan baku minyak goreng Eropa. Akibatnya mereka beralih kepada minyak goreng Asia yang berbahan baku kelapa sawit. Lihatlah grafik yang indah itu, ternyata kelangkaan minyak goreng di dunia telah sukses menaikkan harga minyak goreng sawit sejak bulan Mei tahun lalu. Terjadi lonjakan harga yang hampir 100%.
Rusia dan Ukraina adalah negara penghasil bunga matahari terbesar di dunia, di mana minyak goreng Eropa sangat tergantung pada pasokan kedua negara tersebut. Ketika terjadi perang Rusia – Ukraina, maka pasokan minyak bunga matahari akan berubah status dari semula langka menjadi terhenti sama sekali. Akibatnya menjadi sangat urgen untuk mengimpor minyak sawit (sebagai ganti minyak bunga matahari) sebanyak-banyaknya dari Malaysia dan Indonesia. Harap diketahui, hobi makan gorengan orang Sunda saat ini sudah menyebar luas menulari ibu-ibu di Eropa. Di sore hari, ibu-ibu bule itu juga hobi makan Cornbread (bakwan jagung), Fried Tempeh (tempe mendoan), Monila Sitophila (combro), dan tentu saja French Fries. Itulah akibatnya kalau Sunda Empire sudah merambah Eropa.
Kalau sudah begini, maka pengusaha minyak goreng akan menggenjot produksi sebanyak-banyaknya untuk diekspor ke Eropa. Kita ingat 3 tahun yang lalu, MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) pernah memboikot minyak goreng Indonesia, sampai tidak laku dan over produksi. Alasan Eropa memboikot karena Indonesia aktif menebang hutan demi perkebunan sawit. Kemudian para pengusaha sawit itu minta tolong Jokowi agar melobi Eropa. Karena boikot orang Eropa ini aneh: mereka hanya melarang produksi CPO dari Indonesia saja, sedangkan CPO dari Malaysia dibebaskan. Padahal orang Malaysia itu menanam sawitnya di Indonesia dan mengekspornya melalui Kuala Lumpur. Coba bayangkan, tanah Malaysia yang seuprit itu, tidak seberapa luas dibandingkan dengan Sumatra dan Kalimantan, kenapa bisa mengekspor minyak goreng jauh lebih banyak dari Indonesia? Memangnya mereka menanam sawitnya di mana? Begitu kebun sawit Indonesia terbakar, nama Malaysia selamat. Padahal kebun yang terbakar di Sumatra itu milik pengusaha Malaysia. Orang Eropa sekarang sudah mahfum akan akal bulus Malaysia, sehingga upaya Jokowi menembus Eropa mendatangkan hasil.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!