SKETSA | Masriadeep
Demikianlah, Jasdeep berselancar dengan penjualan Masriadi sampai sepuluh tahun lamanya. Dan saya mendengar, dalam setiap penjualan, Jasdeep mendapat komisi 50%. Sebuah bisnis yang menggiurkan bagi seorang art dealer. Namun kerjasama itu kemudian berakhir tanpa banyak orang ketahui apa sebabnya. Yang orang luar ketahui adalah perjanjian itu berujung dalam situasi yang kurang baik. Dan mereka tidak lagi bertegur sapa setelah itu. Lukisan Masriadi pun kemudian tidak banyak muncul di pasaran. Penjualannya pun di Balai Lelang menjadi tidak bagus, banyak unsold. Market kemudian berganti dengan superstar baru, seperti Ay Tjoe Christine yang harganya sudah melampaui rekor Masriadi. Masriadi sendiri pun adalah jenis orang yang pendiam dan tidak banyak bergaul dengan dunia luar, sehingga ia seperti menghilang begitu saja.
Nah, dalam acara Art Jakarta yang baru lalu, Masriadi tiba-tiba muncul. Sungguh suatu kejutan. Para kolektor dan pecinta seni kemudian mengajak berfoto bersama, karena kangen dengan tokoh yang satu ini, ia baru keluar lagi turun ke dunia persilatan. Kepada saya, Masriadi mengatakan bahwa sekarang karya-karyanya hanya berukuran kecil saja, dengan ukuran 1 m2 ke bawah. Saya menduga ia akan come back dengan harga baru yang lebih murah tetapi ukurannya lebih kecil agar market dapat menyambutnya. Saya juga melihat bahwa market sebenarnya masih antusias dengan karya-karya Masriadi, tinggal bagaimana ia akan menunjuk seseorang yang dapat mempopulerkan dirinya kembali. Bagaimana dengan Jasdeep? Saya berpapasan dengannya ketika ia menunggui stand. Galeri Gajah menyewa space yang cukup besar di perhelatan tersebut. Sosok tinggi besar dengan wajah Indianya yang gelap terlihat over pede dengan setelan jas seperti biasanya. Namun tidak banyak orang yang mampir ke Gajah. Berbeda dengan sambutan orang terhadap Masriadi yang sering diajak berselfieria oleh pengunjung.
Melihat itu saya tiba-tiba muncul ide untuk membuat sebuah lukisan yang bergaya Masriadi. Di mana adegan di dalam lukisan tersebut mengambil salah satu tema yang banyak dibuat Masriadi yaitu soal tinju. Saya membayangkan Masriadi dan Jasdeep sedang bersiap-siap bertanding di ring dengan persenjataan yang lengkap. Masriadi, selain membawa pedang, ia membawa sekumpulan kuas lukis yang terselempang pada pinggangnya. Sementara Jasdeep nampak membawa persenjataan yang berlebihan untuk persiapan laga. Ring tinju yang saya buat dipenuhi oleh penonton dari komunitas seni. Dalam lukisan ini akan terlihat wajah-wajah karikatural yang mudah dikenali, kalau kita memang aktif di dunia senirupa yang cukup sempit keanggotaannya itu.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!