SKETSA | Hikikomori

ED
Kamis, 19 Mei 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Hikikomori

Pada tahun 1960-an, tekanan pada pemuda Jepang untuk sukses dikenalkan sejak awal kehidupan. Dimulai sebelum pra-sekolah, di mana balita harus bersaing melalui ujian masuk untuk mendapatkan hak istimewa menghadiri salah satu pra-sekolah terbaik. Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan anak menghadapi ujian masuk taman kanak-kanak terbaik, yang pada gilirannya mempersiapkan anak untuk ujian masuk sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah terbaik, dan akhirnya untuk ujian masuk universitas. Banyak remaja mengambil cuti satu tahun setelah sekolah menengah selesai, untuk belajar secara eksklusif demi ujian masuk universitas. Universitas yang lebih bergengsi memiliki ujian yang lebih sulit. Universitas paling bergengsi dengan ujian tersulit adalah Universitas Tokyo.

Sejak tahun 1996, Kementerian Pendidikan Jepang telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi lingkungan pendidikan yang ‘bertekanan’ ini. Menanamkan pemikiran kreatif yang lebih besar pada kaum muda Jepang dengan secara signifikan melonggarkan jadwal sekolah dari enam hari menjadi lima hari seminggu. Dan menghapus dua mata pelajaran dari jadwal harian. Serta membuat kurikulum akademik baru yang lebih sebanding dengan model pendidikan Barat. Namun, orang tua Jepang malah mengirim anak-anak mereka ke sekolah swasta, yang menjejalkan pelajaran tambahan, dikenal sebagai juku, untuk ‘mengganti’ waktu yang hilang.

Setelah lulus dari sekolah menengah atau universitas, pemuda Jepang juga harus menghadapi pasar kerja yang sangat sulit. Seringkali mereka hanya mendapatkan pekerjaan paruh waktu dengan pendapatan kecil, sehingga belum dapat memulai hidup berkeluarga. Sumber tekanan lainnya adalah dari rekan mereka, yang suka melecehkan dan mengancam beberapa siswa karena berbagai alasan, termasuk penampilan fisik, kekayaan, prestasi pendidikan dan atletik. Hal itu membuat siswa menolak untuk berpartisipasi dalam masyarakat, membuat hikikomori menjadi pilihan ekstrim dari kelompok muda Jepang.

Hampir dapat dikatakan, hikikomori sulit untuk disembuhkan. Salah satu terapinya adalah dengan mengajak olahraga agar mau keluar kamar dan berinteraksi dengan orang lain. Karenanya, sebagai orang tua sebaiknya janganlah memberi tetek bengek target prestasi kepada anak, karena hal itu akan membuat stres. Bebaskanlah anak untuk memilih dan melakukan apa yang disukainya sesuai karakternya sendiri. Hal itu yang akan membuat anak berbahagia karena merasa dunia ini aman dan indah.***

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.