SKETSA | Hikikomori
Hikikomori berhubungan dengan transformasi dari masa muda ke tanggung jawab dan harapan kehidupan dewasa. Hal ini menunjukkan masyarakat industri maju seperti Jepang modern gagal menyediakan transformasi yang cukup untuk mempromosikan pemuda ke dalam peran yang matang. Seperti yang dilakukan banyak masyarakat, Jepang memberikan tekanan pada remaja untuk menjadi sukses dan melestarikan status quo sosial yang ada. Penekanan yang kuat secara tradisional pada perilaku sosial yang kompleks, hierarki yang kaku, berpotensi mengintimidasi banyak harapan sosial. Tanggung jawab dan tugas dalam masyarakat Jepang berkontribusi pada tekanan terhadap orang dewasa muda. Ajaran Konfusianisme yang menekankan sikap harmoni sosial dalam masyarakat hierarkis yang kaku juga menyumbang munculnya fenomena hikikomori di negara-negara Asia Timur lainnya.
Secara umum, kecenderungan hikikomori di Jepang didorong dan difasilitasi oleh tiga faktor utama. Pertama, kemakmuran kelas menengah dalam masyarakat pasca-industri yang memungkinkan orang tua mendukung dan memberi makan anak dewasa di rumah tanpa batas waktu. Kedua, teknologi komunikasi modern (seperti Internet, media sosial, dan video game) dianggap sebagai faktor memperburuk yang dapat memperdalam dan memupuk penarikan diri. Adanya hikikomori di Korea Selatan dan Spanyol menunjukkan tanda-tanda kecanduan internet. Video game dan media sosial telah mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan orang di luar dan di lingkungan sosial yang memerlukan interaksi tatap muka langsung. Ketiga, munculnya ponsel dan kemudian smartphone telah memperdalam masalah ini, mengingat orang dapat melanjutkan kecanduan mereka pada game dan berselancar online di mana saja, bahkan di tempat tidur.
Sistem pendidikan Jepang, seperti yang terdapat di China, Singapura, India, dan Korea Selatan, sangat menuntut kaum muda. Banyaknya harapan, penekanan yang tinggi pada persaingan, dan hafalan angka-angka agar lulus ujian masuk ke tingkat pendidikan berikutnya. Nilai-nilai tradisional Konfusianisme dalam masyarakat dan sistem pendidikan dipandang memainkan peran penting dalam produktivitas dan keberhasilan masyarakat secara keseluruhan. Dalam kerangka sosial ini, siswa sering menghadapi tekanan yang signifikan dari orang tua dan masyarakat pada umumnya untuk menyesuaikan diri dengan ajaran-ajarannya. Doktrin-doktrin ini semakin ditolak oleh pemuda Jepang dengan berbagai cara seperti hikikomori. Ada juga istilah “Hodo-hodo zoku” yaitu pekerja muda menolak promosi untuk meminimalkan stres dan memaksimalkan waktu luang.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!