SKETSA | Hikikomori

ED
Kamis, 19 Mei 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Hikikomori

Oleh Syakieb Sungkar

TEMAN saya seorang penulis dan banyak mendalami mengenai telaah sastra, kritik seni serta esei. Ia bercita-cita ingin membuat sebuah novel yang sangat bagus, sempurna, dengan struktur kompak namun gaya bahasanya sangat puitis. Jika novel itu terbit maka akan laku keras dan tiada cela. Sehingga para kritikus sastra hanyalah bisa memuji, karena tidak didapati suatu cacat dalam novelnya itu. Masalahnya, novel itu belum selesai. Sehingga ia perlu berkonsentrasi dalam pembuatannya. Untuk itu ia meminta izin bossnya untuk tidak ke kantor barang 1 tahun lamanya. Istilahnya, cuti di luar tanggungan perusahaan. Nanti setelah 1 tahun, novel yang sempurna itu akan selesai ditulis dan langsung diterbitkan. Mudah-mudahan novelnya itu mendapat hadiah sastra. Apakah hadiah sastra DKJ atau Rancage.

Selama satu tahun ia mengerjakannya seorang diri di rumah, dan mendapati banyak perbaikan-perbaikan dalam novelnya. Dan ia menemukan ide-ide baru bagaimana agar novel rancangannya itu dapat menjadi lebih baik lagi. Sehingga ia membongkar ulang seluruh bangunan novelnya, nyaris menulis dari awal lagi. Setelah masa 1 tahun usai, ia menelpon bossnya untuk minta izin tambahan cuti 1 tahun lagi karena novelnya masih belum selesai. Berhubung bossnya itu juga seorang seniman maka ia mengerti dan mengizinkannya untuk mengambil perpanjangan cuti. Bagi bossnya hal itu tidak masalah sejauh selama cuti, perusahaan tidak menanggung biaya apapun. Di tahun ketiga, ia sudah tidak berani meminta cuti lagi, tetapi orang-orang satu kantor telah mahfum bahwa teman saya itu masih berkutat menyelesaikan novelnya. Tanpa terasa sudah 10 tahun berlalu, tetapi ia belum muncul juga ke kantor.

Orang sekarang mulai bertanya-tanya kemana gerangan teman saya itu. Mengapa tidak pernah muncul ke dalam pergaulan di komunitas seniman. Dan setelah masuk tahun ke empat, ia tidak lagi mengangkat telpon selularnya, dan tak menjawab pesan-pesan. Orang-orang yang khawatir akhirnya bertandang ke rumahnya, tetapi teman saya itu tidak mau keluar dari kamarnya. Ia seperti menutup kehidupannya dari dunia. Sampai orang kemudian lupa mengapa dahulu ia meminta cuti. Dalam bahasa Jepang, teman saya itu sedang melakukan Hikikomori, artinya ia menarik diri dari kehidupan sosial dan masyarakat serta melakukan isolasi, atau dapat disebut sebagai pertapa.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.