SKETSA | Hendrik Lukman
Pameran Hendrik kali ini dilangsungkan di Taman Budaya Jawa Barat, jl. Bukit Dago Selatan 53A, pada tanggal 23-30 September 2022. Dikurasi oleh Diyanto dan diberi judul “Body in Art”. Hal yang terpenting dari pameran ini, selain kualitas karyanya, adalah dihidupkannya kembali tradisi melukis nude yang memudar setelah Reformasi 1998. Saya menduga setelah Reformasi, bermunculan ormas yang mendesakkan keinginannya agar dunia seni tunduk pada kaidah-kaidah moral dan agama. Sebagai contoh, ketika pada pameran CP Biennale 2005 yang berlangsung di Museum Bank Indonesia, karya Agus Suwage diturunkan karena dianggap mengandung konten pornografi. Panitia mempertimbangkan protes yang dilayangkan ormas demi menjaga keamanan fasilitas museum tersebut.
Tradisi melukis nude sudah berlangsung lama dalam sejarah senirupa Indonesia. Pelukis-pelukis seperti Affandi, Hendra Gunawan, Basoeki Abdullah, Lee Manfong, S. Soedjojono dan Barli sendiri, familiar dengan melukis model telanjang. Bahkan Affandi di tahun 70an pernah membuat serial Erotika, di mana subyek dalam lukisan sedang melakukan persetubuhan (Gambar - 2). Tradisi ini sempat berhenti sebentar ketika Basoeki Abdullah meninggal, tetapi kemudian dilanjutkan kembali oleh pelukis Mochtar Apin. Hal itu dapat kita lihat jejaknya dalam buku Jim Supangkat tentang lukisan-lukisan nude Apin yang berjudul “Tubuh-tubuh Provokatif: Membaca Karya-karya Mochtar Apin 1990-1993”.
Namun setelah Apin, tradisi itu tidak ada yang melanjutkan. Apalagi setelah peristiwa CP Biennale di tahun 2005 itu. Penggerudukan ormas ketika itu telah sukses membuat pelukis Indonesia ketakutan membuat karya nude. Ketakutan dengan 2 alasan: pertama -- takut tidak bisa dipamerkan, dan kedua –- takut tidak laku di market. Karenanya, keberanian Hendrik perlu kita acungi jempol, ia menghidupkan kembali apa yang sudah padam, sehingga kelak para pelukis Indonesia bergairah lagi menggambar anatomi.
Melukis nude merupakan bagian dari cara memahami anatomi manusia. Karena di sana kita dapat mempelajari mekanisme gerakan dan koordinasi tubuh sehingga tidak ada kesalahan dalam pelukisan. Hal itu sudah dilakukan Leonardo da Vinci dan para pelukis Renaisans lainnya di abad 15. Hal itu juga yang dipelajari di sekolah seni Indonesia sejak dulu. Memang melukis nude sempat dilarang di ITB karena Ahmad Sadali yang religius itu menganggap hal itu tidak patut secara agama. Hal itu yang juga menjadi sumber konflik antara Sadali dengan Apin dan Barli. Konflik itu berlanjut, dengan prinsip Sadali yang menganggap realisme dan naturalisme sudah berlalu dalam periode senirupa dunia. Karenanya belajar melukis anatomi tidak diperlukan lagi. Memang ketika itu abstrak ekspresionisme sedang hit di ITB, hal yang membuat Barli tidak bisa menerima sehingga ia keluar dari ITB dan mengembangkan Studio Rangga Gempol. Kiranya uraian saya tentang pameran Hendrik ini sudah terlalu jauh mundur ke belakang. Maka sebaiknya mari kita semua menikmati karya-karya Hendrik secara langsung tanpa banyak berbincang soal sejarah seni.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!