SKETSA | Hamzah Fansuri
Tasawuf sebagai ilmu pengetahuan mempelajari cara dan jalan bagaimana seseorang Islam dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Dalam artikel Haryadi, “Sufisme dalam Syair Hamzah Fansuri”, ada tingkatan-tingkatan yang mesti dilakukan oleh seorang sufi, yaitu (1) syariat, (2) thariqat, (3) hakikat, dan (4) makrifat. Syariat adalah segala aturan-aturan hukum yang termuat di dalam Alquran dan Sunah Nabi yang harus dilakukan oleh manusia. Thariqat adalah jalan ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam hal itu, syariat ibarat teori dan praktiknya ialah thariqat. Hakikat adalah kebenaran sejati (kebenaran mutlak) yang oleh Plato disebut ide tertinggi. Hakikat adalah ujung jalan tempat tujuan terakhir. Sementara itu, makrifat adalah insan kamil atau wahdatul wujud, yaitu manusia sempurna yang mengenal dirinya yang berarti juga telah mengenal Tuhannya.
Ke akhirat juga tempat berpulang,
Janganlah dikasih emas dan uang,
Itulah membawakan badan terbuang.
Hamzah Fansuri mengingatkan manusia bahwa hidup di dunia itu tidak lama, akhirnya akan sampai juga ke alam akhirat. Di akhirat, terdapat siksa yang sangat pedih. Dengan demikian, manusia harus berhati-hati selama hidup di dunia, terutama memperbanyak ibadah dan berbuat baik. Hamzah Fansuri memandang dunia sebagai suatu perjalanan panjang yang berujung pada kematian. Ia menggunakan simbol-simbol yang terdapat dalam perjalanan. Bagi orang Melayu yang akrab dengan dunia kelautan simbol-simbol yang diangkat adalah simbol kemaritiman, yaitu perahu, laut, gelombang, karang, ikan, pelabuhan (bandar), dan pulau. Syair Perahu I dan Syair Perahu II sudah cukup memberi gambaran bahwa penyair ingin menggambarkan manusia yang berada di dunia ini ibarat perahu yang sedang berlayar di lautan, dan pada akhirnya kita berpulang. Memang pada akhirnya kita semua akan mati bukan?. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!