SKETSA | Hamzah Fansuri
Apa tubuh? Apa nyawa? Sekelian alam pun rupanya jua,
Segala rupa yang baik dan erti yang suci itu pun rupanya jua,
Segala barang yang datang kepada penglihatanku itu pun rupanya jua.
Hal itu yang membuat marah Syaikh al-Islam di Kerajaan Aceh yang bernama Nurrudin al-Raniri. Al-Raniri menjabat sebagai Menteri Agama pada tahun 1637-1643, dan di masa menjadi Syaikh, ia memberikan perintah untuk membakar buku-buku Fansuri di halaman masjid besar Banda Aceh. Kalau yang nyata hanya Tuhan, maka keberadaan yang lain dianggap tidak memiliki eksistensi. Padahal yang dimaksud oleh Fansuri adalah, dunia bukannya tidak memiliki eksistensi, tetapi ia lebih menekankan keberadaan dunia sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari Tuhan, dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.
Sufisme adalah istilah lain dari tasawuf. Tasawuf adalah semacam ilmu (cara) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Para orientalis Barat memaknai istilah itu dengan mistisisme dalam Islam. Mistisisme sebagai suatu istilah bersifat universal, oleh karena hampir semua ajaran agama ada segi mistisnya. Mistisisme erat berkaitan dengan kata mistery, atau mysterious yang berarti rahasia. Oleh karena itu wajar apabila orang mengatakan mistisisme atau sufisme sulit untuk dipahami. Sementara Tasawuf berasal dari kata sufi. Kata sufi berasal dari shaafaa yang berarti suci. Seorang sufi adalah orang yang disucikan. Kaum sufi adalah orang-orang yang telah menyucikan dirinya melalui latihan yang berat dan lama. Kaum sufi hidup sederhana dan dalam keadaaan miskin tetapi suci atau mulia. Mereka meninggalkan kemewahan yang sering dilambangkan dengan kain sutera. Orang yang mula-mula digelari sufi ialah Abu Hasyim dari Koufah, yang wafat tahun 150 H (761 M).
Hampir semua agama dan sistem religi mempunyai aspek untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan. Sufisme tampaknya akan tetap eksis sepanjang zaman. Meskipun sekarang keadaan sudah berbeda, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, dan kebudayaan modern telah menyebar ke berbagai aspek kehidupan, tampaknya paham tasawuf tetap relevan. Kuntowidjojo dalam tulisannya di majalah Tempo tahun 1991, melihat kecenderungan orang belajar tasawuf sekarang ini ibarat mencari oase di padang pasir. Ketika ekonomi membaik, hidup cenderung hedonistik dan bermewah-mewah, muncul kesadaran yang kontradiktif yaitu kehausan pada kesederhanaan. Ekspresinya tampak pada simbol ketasawufan, seperti kesederhanaan, kecintaan, dan kesalihan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!