SKETSA | Hamzah Fansuri
Hapuskan akal dan rasamu,
Lenyapkan badan dan nyawamu.
Pejamkan hendak kedua matamu,
Di sana kau lihat permai rupamu.
Hamzah Fansuri menjelaskan bahwa syair ini dipergunakan sebagai metode latihan sufi yang dimulai dengan “hapuskanlah akal dan rasamu”, yang berarti suatu cara untuk menuju kepada kondisi “tidak berpikir”, yang menurutnya merupakan kondisi yang berada pada kesadaran murni atau kesadaran Ilahi. Untuk mencapai kondisi “No-Mind” itu, maka seorang sufi harus “lenyapkan badan dan nyawamu”. Yang berarti melepaskan keterikatan terhadap tubuh dan berbagai pemikiran serta nafsu. Setelah itu barulah sang sufi memejamkan kedua mata inderawinya, untuk mengaktifkan “mata ruhaninya”. Itulah cara melihat jati diri yang senantiasa berada dalam kondisi permai, bahagia yang abadi - inti dari tafakur atau meditasi menurut Hamzah Fansuri. Seperti yang pernah ditulis oleh Ahmad Yulden Erwin, dalam artikelnya yang berjudul “Seorang Sufi dari Aceh pada Abad 17”.
Karel Steenbrink, mengatakan Fansuri memiliki kecenderungan kuat untuk memahami doktrin Islam melalui kaca mata mistik (sufi). Kecenderungan ini menyebabkan orang menyimpulkan bahwa Hamzah Fansuri adalah penganjur ajaran Panteisme atau Wahdatul Wujud. Kunci ajaran itu adalah menekankan eksistensi Tuhan sebagai satu-satunya yang nyata. Berikut adalah syair Hamzah dari petikan kitab Al-Muntahi (Naskah Leiden no. 7291, III):
Bahawa ada kekasihku, tubuh dan nyawa rupanya jua,
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!