SKETSA | Guantanamo
Nancy menemukan sesuatu yang mengejutkan melalui surat Mohamedou yang diterimanya sementara Stu melihat MFR (Memorandum for the Record), menunjukkan dengan tepat apa yang terjadi. Surat dan laporan tersebut berbicara tentang peningkatan perlakuan penyiksaan termasuk serangan seksual terhadap Mohamedou oleh penjaga Guantanamo seperti yang diperintahkan oleh Jenderal Mandel. Jenderal Mandel juga mengancam akan menangkap dan memperkosa ibunya. Jadi, untuk menyelamatkan ibunya, Mohamedou memberikan pengakuan palsu tentang menjadi teroris.
Pada bulan Desember 2009, di persidangan Mohamedou bersaksi melalui komunikasi video ke pengadilan tentang penyiksaan yang dialaminya. Pada bulan Maret 2010, Mohamedou mendapat surat yang memberitahukan bahwa kasusnya berhasil dimenangkan, dan hakim telah memerintahkan Guantanamo agar Mohamedou dibebaskan karena penahanannya tidak sah dan pengakuannya terjadi karena siksaan, bukan pengakuan yang benar. Namun Pemerintahan Obama naik banding, sehingga terjadi penundaan pembebasan Mohamedou selama 7 tahun lagi sebelum dia benar-benar dibebaskan. Dalam penjara, Ibunya meninggal pada tahun 2013 sehingga Mohamedou tidak pernah melihatnya lagi. Ia akhirnya dibebaskan pada tahun 2016, setelah menghabiskan 14 tahun di penjara tanpa pernah didakwa, karena Pemerintah Amerika tahu bahwa ia tidak bersalah dan bukanlah seorang teroris.
Pada 2005, Mohamedou menulis memoar saat ditahan. Naskah setebal 466 halaman itu ditulis dalam bahasa Inggris, bahasa yang dipelajarinya selama ditahan di Guantanamo. Setelah litigasi dan negosiasi, pemerintah Amerika mendeklasifikasi memoar itu enam tahun kemudian, dengan banyak editan dan revisi serta sensor tentunya. Kutipan memoar itu diterbitkan oleh majalah Slate sebagai serial tiga bagian mulai 30 April 2013. Pada 1 Mei 2013, majalah Slate juga menerbitkan wawancara terkait dengan Kolonel Morris Davis, kepala jaksa militer di Guantanamo yang menjabat antara September 2005 hingga Oktober 2007.Memoar Mohamedou itu kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul Guantanamo Diary pada Januari 2015. Ini adalah karya pertama seorang tahanan yang masih dipenjara di Guantanamo. Buku ini memberikan rincian interogasi dan penyiksaan keras terhadap Mohamedou termasuk dicekok paksa minum air laut, dilecehkan secara seksual, menjadi sasaran eksekusi pura-pura dan berulang kali dipukuli, ditendang dan dihancurkan pada bagian wajahnya, semua dibumbui dengan ancaman bahwa ibunya akan dibawa ke Guantanamo dan diperkosa beramai-ramai. Guantanamo Diary kemudian menjadi buku terlaris internasional. Namun petugas penjara mencegah Mohamedou menerima salinan buku yang telah diterbitkan itu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!