SKETSA | Brigadir J
Nampaknya Ferdy telah under estimate terhadap keluarga Brigadir J yang dipikirnya urusan ini akan beres dengan diberi semacam kompensasi, fasilitas, atau uang kerohiman, sehingga akan menerima saja narasi yang disodorkannya. Ternyata tidak demikian, orang tua Brigadir J walau nampak sederhana, tetapi mereka adalah pejuang yang liat dalam membesarkan keempat anaknya sehingga berhasil menjadi sarjana, dua di antaranya menjadi polisi. Orang tua Brigadir J kemudian menyewa pengacara yang hebat, Kamaruddin Simanjuntak, yang dengan tangkas bergerak cepat. Ia mengadu ke Presiden, Menko Polhukam, Komnas HAM, media televisi, medsos, dengan membeberkan bukti-bukti bekas penganiayaan pada jenazah lengkap dengan foto-foto. Kamaruddin berhasil membangun kemarahan masyarakat sehingga pengungkapannya menjadi viral. Ia mengusulkan agar dibentuk tim khusus yang melibatkan semua unsur, termasuk TNI. Ia meminta dilakukan autopsi ulang. Dan hampir semua permintaannya dikabulkan karena begitu besarnya desakan masyarakat untuk mengungkap kasus ini dengan terbuka dan terang benderang. Presiden merespon agar kasus ini jangan ditutup-tutupi, dan beliau memerintahkan Menko Polhukam untuk mengawal ketat kasus ini sehingga dapat terungkap tuntas.
Menko Polhukam selain mengarahkan Polisi, ia juga memantau hasil pergerakan Kompolnas, Komnas HAM, dan LPSK agar memberikan laporan rutin kepadanya. Itulah strategi Menko Polhukam mengawasi kerja Polisi agar tidak lagi dipengaruhi oleh satu dua oknum yang terlibat dalam pembunuhan Brigadir J. Hasilnya memang cespleng, bersamaan dengan pengnonaktifan Irjen Ferdy Sambo dan Brigjen Hendra, Polri juga menonaktifkan Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Budhi Herdi Susianto per Rabu (20 Juli 2022). Karena Budhi dinilai tidak bekerja sesuai prosedur untuk mengungkap dugaan tindak pidana pembunuhan Brigadir J. Budhi seakan ikut merekayasa kasus yang merenggut nyawa Brigadir J tersebut.
Polri mengungkap bahwa Brigadir J merupakan personel Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) yang diperbantukan di Propam sebagai sopir Irjen Ferdy Sambo. Sementara, Bharada E adalah anggota Brimob yang diperbantukan sebagai asisten pengawal pribadi Ferdy. Kalau kasus ini memang sekedar tembak menembak antar ajudan, mengapa Ferdy Sambo demikian sibuk mengurus, mengatur, memalsukan dan menghilangkan barang bukti? Belakangan satu demi satu barang bukti tersebut bermunculan, CCTV di sekitar kompleks yang decodernya diganti serta dinyatakan hilang kemudian dapat dikumpulkan dan dianalisa. Pakaian Brigadir J yang hilang beserta 3 ponselnya yang raib kemudian muncul di Laboratorium Forensik Polri. Itulah jitunya Kamaruddin dalam membangun emosi netizen sehingga upaya menutup-nutupi kasus ini menjadi gagal. Kapolri pun mengakui bahwa ia menengarai bahwa masyarakat cenderung memviralkan suatu kasus agar mendapat perhatian dari Polisi. Habis mau bagaimana lagi Pak Polisi, kami tahu bahwa begitu banyak kasus kriminal di negeri ini yang harus ditangani dengan personel kepolisian yang jumlahnya terbatas. Jika tidak dilakukan upaya menarik perhatian agar segera ditangani, bisa-bisa kasus pembunuhan Brigadir J ini akan ditelantarkan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!