SKETSA | Bjorka
Kunci agar suatu perusahaan atau instansi tidak dibobol oleh Hacker adalah menyediakan sistem Firewall yang canggih. Tentu saja butuh dana yang besar, komputer yang canggih, dan juga teknisi IT yang handal. Mereka dapat melindungi data-data penting agar tidak bisa dibobol, dengan membuat sistem serta melatih disiplin pegawai-pegawainya untuk tidak berperilaku ceroboh. Hal itu sebenarnya dimungkinkan karena dana IT dari Pemerintah cukup banyak tersedia. Namun masalahnya ketika anggaran itu ingin dipergunakan, dilakukan tender yang tidak transparan dan pemenang tender diwajibkan menyetor ke para pejabat di perusahaan atau instansi tersebut. Sehingga dana yang besar itu hanya menyisakan 10% saja ke para vendor IT untuk bisa dipakai sebagai belanja software dan hardware. Akibatnya sistem yang dibangun menjadi apa adanya dan nyaris compang-camping, sehingga mudah dibobol Hacker. Kasus Bjorka ini seharusnya dapat memacu kita untuk membenahi sistem IT agar lebih berkualitas dan aman. Hal itu jauh lebih produktif ketimbang kita blingsatan dan reaktif terhadap tuduhan Bjorka yang belum tentu benar.***
- Penulis, pengamat seni dan pernah menjadi juri dalam Bandung Contemporary Art Award (BaCAA), mantan executive di beberapa perusahaan telekomunikasi, pernah bersekolah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020), menulis buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018), dan buku “Seni Sebagai Pembebasan” (2022), pernah berpameran tunggal lukisan di Galeri Titik Dua, Ubud (2021), saat ini menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi (jurnaldekonstruksi.id).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!