SKETSA | Bjorka
Oleh Syakieb Sungkar
AKHIR-AKHIR ini kita sedang diributkan dengan ulah seorang Hacker yang banyak ngoceh di Twitter. Ia mengaku telah meretas data pelanggan Indihome, data registrasi SIM Card, data KPU, dokumen surat menyurat milik Presiden Joko Widodo, data pribadi milik Mahfud MD dan Menteri Kominfo Johnny G. Plate, termasuk surat yang dikirim oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Hacker tersebut menamakan dirinya sebagai Bjorka, dan mengumumkan hasil pembobolannya setiap hari melalui akun Twitter yang berubah dalam kurun waktu tertentu, seperti @bjorkanism, @bjorxanism dan @bjorkanesian. Pada setiap akun yang dibuat, selalu ada kesamaan yaitu ia selalu memfollow sebuah akun yang bernama @bjork. Diketahui akun @bjork adalah milik seorang penyanyi terkenal asal Islandia. Kemungkinan besar hacker Bjorka ini merupakan penggemar Bjork. Foto profil yang terpampang di Twitter-nya pun ternyata mengambil salah satu cover album Bjork, penyanyi yang kini berusia 56 tahun itu.
Seorang Hacker biasanya akan diam jika membobol sesuatu, karena ia bisa membuat sebuah program di suatu perusahaan yang menguntungkan dirinya. Misalnya begini, ada sebuah perusahaan perbankan, atau perusahaan retail yang transaksinya mengandung nilai pecahan. Sebagai contoh, ada transaksi yang mengandung nilai Rp 905,27,- si Hacker akan mengambil Rp 0,07,- dari transaksi itu. Sementara si nasabah dan petugas bank tidak menyadari bahwa uang yang ditransfer dan ditransaksikan tinggal menjadi Rp 905,2,- saja dari saking kecilnya nilai yang diambil itu. Hacker telah menanamkan suatu program dalam sistem IT di perusahaan tersebut yang berfungsi memotong dan mengutip pecahan tadi serta mengumpulkannya dalam suatu kantong atau akun di bank tersebut. Dalam setahun, uang pecah yang terlihat kecil dan remeh itu bisa bernilai milyaran.
Bisa juga begini. Ada sebuah perusahaan seluler. Pelanggan prepaid dari perusahaan itu biasanya mengganti nomor apabila pulsanya habis. Tetapi pulsa pada nomor tersebut sebenarnya tidak benar-benar habis. Masih ada sisa pulsa yang kecil jumlahnya misalnya Rp 86,- Itu biasanya disebut sebagai kerak pulsa dalam sistem IT provider selular tadi. Kalau sisa-sisa pulsa atau kerak pulsa dikumpulkan pada satu nomor, maka nomor si Hacker itu mempunyai pulsa yang besar nilainya. Dan ia bisa menjualnya secara eceran ke penjual pulsa di pinggir jalan melalui fasilitas transfer pulsa.
Kedua contoh tadi merupakan pengutilan kecil-kecilan para Hacker. Ia bisa saja mencuri uang yang sungguh bernilai besar pada prakteknya, sehingga menjadi kriminal beneran. Tetapi Hacker Bjorka nampaknya tidak bermaksud mencari keuntungan finansial dari ulahnya itu. Ia lebih menggunakan isu hacker itu sebagai tujuan politis. Hal-hal yang tidak disukainya, seperti kebijakan Menteri Kominfo yang mengancam akan memblokir penyelenggara sistem elektronik (PSE) seperti Google, Facebook, Instagram, karena belum mendaftar ke instansinya. Mereka enggan mendaftar karena langkah berikutnya adalah Kominfo akan meminta mereka melaporkan transaksi bisnis yang dilakukannya di Indonesia, berapa pendapatannya dari biaya pemasangan iklan selama mereka beroperasi disini, dan seterusnya. Yang pada akhirnya Departemen Keuangan akan memajaki PSE tersebut.
Menkominfo ini juga suka mengeluarkan pernyataan yang aneh seperti ia mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan dalam membagikan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan data pribadi lainnya kepada pihak yang tidak berkepentingan. Masalahnya sebagai warga negara, kita diwajibkan mengisi berbagai macam form seperti Aplikasi Peduli Lindungi, Pajak, dan lain-lain. Sementara data-data itu sudah dibocorkan Hacker sekarang ini. Apakah yang dimaksud oleh Johnny G. Plate bahwa kita harus menolak apabila diminta negara menyerahkan data NIK pada KTP kita karena nanti akan dibobol oleh para Hacker? Bukankah sudah seharusnya tugas Menkominfo menjaga kerahasiaan data warganya untuk tidak dibobol? Mengapa rakyat harus menjaga datanya sendiri yang sudah diminta diserahkan kepada negara? Saya rasa disitulah konteks kejailan Hacker Bjorka mengapa ia akhir-akhir ini merusuhi dan mempertanyakan kompetensi Johnny G. Plate sebagai Menkominfo.
Selain menyebarkan data pribadi, Bjorka juga kerap memberi sindirian terhadap sejumlah pejabat, seperti Puan Maharani, Erick Thohir, Luhut Pandjaitan, dan influencer Denny Siregar. Bjorka pernah mengaku bahwa dirinya berdomisili di Warsawa Polandia dan memiliki teman asal Indonesia. Namun temannya itu tidak berstatus sebagai WNI karena kebijakan tahun 1965, meski sebenarnya ingin kembali ke Indonesia. “Saya punya teman orang Indonesia yang baik di Warsawa, dan dia bercerita banyak tentang betapa kacaunya Indonesia. Aku melakukan ini untuknya,” ujar Bjorka dalam bahasa Inggris, pada Minggu 11 September 2022. Kata-katanya dibuat dalam bahasa Inggris yang baik dan tertata rapi, mengisyaratkan bahwa ia menulis dulu dalam bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan ke Inggris melalui Google Translate.
Menurutnya, temannya itu adalah sosok yang sangat jenius dan berkeingingan untuk memperbaiki Indonesia melalui teknologi seperti layaknya sosok Habibie. Namun sayangnya, hingga akhir hidupnya, teman Bjorka itu urung kembali ke Indonesia dan meninggal dunia pada tahun lalu. Bjorka gagal membantu temannya itu untuk kembali ke Indonesia, dan sebagai gantinya ia melakukan peretasan ini. Menurutnya, peretasan yang ia lakukan ini adalah salah satu cara agar Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Semakin banyak Bjorka berbicara kita akan menjadi yakin bahwa ia sebenarnya tinggal di Indonesia. Bjorka adalah orang yang rajin membaca koran dan mengamati perkembangan politik di media sosial. Soal ia mengaku tinggal di Warsawa sebenarnya hal itu mengindikasikan server yang dipakainya meminjam atau menyewa dari server gelap yang banyak beredar di Eropa Timur.
Seorang Hacker tidak mau beresiko dengan memakai source yang ada di rumahnya. Sebaiknya ia menyewa dari situs-situs yang ada di Dark Web yang siap untuk memindahkan atau mentransfer ke komputer lain di sekitarnya atau negara tetangga, begitu IP nya terlacak oleh perusahaan yang dihack. Kalau IP dapat berpindah-pindah, apalagi pindah negara, maka kemungkinan untuk ditangkapnya menjadi sangat kecil. Kalau kemaren ini terdengar kabar bahwa polisi telah menangkap seorang pria berinisial MAH di Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, pada Rabu petang, 14 September 2022. Maka besar kemungkinan MAH itu bukan Bjorka yang sebenarnya. Bjorka menyatakan polisi telah salah tangkap, ia menyatakan pria itu hanya sebagai pemilik akun di platform Dark Tracer, platform yang sering memberikan informasi tentang dark web, termasuk kebocoran data. “Untuk orang Dark Tracer, ini adalah dosa kalian menyediakan layanan palsu ke Pemerintah Indonesia dan memberikan informasi yang salah kepada para idiot.” Demikian Bjorka menyalak dalam Twitternya.
Seorang Hacker biasanya mempunyai sasaran dalam berbuat, yaitu menembus IP yang ditujunya sebagai jalan masuk menuju sistem yang dikelolanya. Sebuah komputer atau server di zaman sekarang ini ibarat sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan. Jalanan itu berupa saluran atau pipa internet. Sementara, sebagaimana rumah pada umumnya, ia mempunyai pintu dan jendela. Pintu dan jendela sebuah perusahaan itu biasanya berupa alamat e-mail untuk komplain atau form pendaftaran online. Kita pun sebagai pribadi, juga mempunyai pintu dan jendela, yang berupa akun Facebook dan Instagram, alamat e-mail, dan WhatsApp. Dari sana para Hacker akan memasuki IP kita. Pintu dan jendela rumah kita akan terbuka apabila kita ceroboh dalam menggunakan internet. Misalnya, kita sedang nongkrong di kafe dan menikmati layanan Wifi gratis yang disediakan. Dengan mudah pemilik kafe akan dapat melacak IP kita sebagai jalan masuk. Kecerobohan dapat juga terjadi kalau kita suka berselancar ke situs-situs porno, di mana kalau kita klik biasanya berisi jebakan untuk membuka pintu dan jendela komputer kita. Atau kita sering dibombardir dengan e-mail yang terus-menerus. Ketika kita penasaran untuk membukanya atau mengklik isi e-mail tersebut, hacker akan memuntahkan program yang menyebabkan ia dapat membongkar kode-kode rahasia atau password komputer, e-mail dan akun medsos kita. Hacker juga suka membuat website pishing, website yang mirip dengan website asli sehingga tertipu memberikan data-data kita ke website tersebut. Misalnya kita ingin mengganti kartu di sebuah bank, begitu kita google bank tersebut, ada website yang mirip dan kita tidak menyadari bahwa website itu milik Hacker. Begitu IP terbongkar, melalui aplikasi Telnet seorang Hacker dapat memberi perintah dan mengubek-ubek komputer kita.
Kunci agar suatu perusahaan atau instansi tidak dibobol oleh Hacker adalah menyediakan sistem Firewall yang canggih. Tentu saja butuh dana yang besar, komputer yang canggih, dan juga teknisi IT yang handal. Mereka dapat melindungi data-data penting agar tidak bisa dibobol, dengan membuat sistem serta melatih disiplin pegawai-pegawainya untuk tidak berperilaku ceroboh. Hal itu sebenarnya dimungkinkan karena dana IT dari Pemerintah cukup banyak tersedia. Namun masalahnya ketika anggaran itu ingin dipergunakan, dilakukan tender yang tidak transparan dan pemenang tender diwajibkan menyetor ke para pejabat di perusahaan atau instansi tersebut. Sehingga dana yang besar itu hanya menyisakan 10% saja ke para vendor IT untuk bisa dipakai sebagai belanja software dan hardware. Akibatnya sistem yang dibangun menjadi apa adanya dan nyaris compang-camping, sehingga mudah dibobol Hacker. Kasus Bjorka ini seharusnya dapat memacu kita untuk membenahi sistem IT agar lebih berkualitas dan aman. Hal itu jauh lebih produktif ketimbang kita blingsatan dan reaktif terhadap tuduhan Bjorka yang belum tentu benar.***
- Penulis, pengamat seni dan pernah menjadi juri dalam Bandung Contemporary Art Award (BaCAA), mantan executive di beberapa perusahaan telekomunikasi, pernah bersekolah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020), menulis buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018), dan buku “Seni Sebagai Pembebasan” (2022), pernah berpameran tunggal lukisan di Galeri Titik Dua, Ubud (2021), saat ini menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi (jurnaldekonstruksi.id).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!