SKETSA | Bjorka
Menurutnya, temannya itu adalah sosok yang sangat jenius dan berkeingingan untuk memperbaiki Indonesia melalui teknologi seperti layaknya sosok Habibie. Namun sayangnya, hingga akhir hidupnya, teman Bjorka itu urung kembali ke Indonesia dan meninggal dunia pada tahun lalu. Bjorka gagal membantu temannya itu untuk kembali ke Indonesia, dan sebagai gantinya ia melakukan peretasan ini. Menurutnya, peretasan yang ia lakukan ini adalah salah satu cara agar Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Semakin banyak Bjorka berbicara kita akan menjadi yakin bahwa ia sebenarnya tinggal di Indonesia. Bjorka adalah orang yang rajin membaca koran dan mengamati perkembangan politik di media sosial. Soal ia mengaku tinggal di Warsawa sebenarnya hal itu mengindikasikan server yang dipakainya meminjam atau menyewa dari server gelap yang banyak beredar di Eropa Timur.
Seorang Hacker tidak mau beresiko dengan memakai source yang ada di rumahnya. Sebaiknya ia menyewa dari situs-situs yang ada di Dark Web yang siap untuk memindahkan atau mentransfer ke komputer lain di sekitarnya atau negara tetangga, begitu IP nya terlacak oleh perusahaan yang dihack. Kalau IP dapat berpindah-pindah, apalagi pindah negara, maka kemungkinan untuk ditangkapnya menjadi sangat kecil. Kalau kemaren ini terdengar kabar bahwa polisi telah menangkap seorang pria berinisial MAH di Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, pada Rabu petang, 14 September 2022. Maka besar kemungkinan MAH itu bukan Bjorka yang sebenarnya. Bjorka menyatakan polisi telah salah tangkap, ia menyatakan pria itu hanya sebagai pemilik akun di platform Dark Tracer, platform yang sering memberikan informasi tentang dark web, termasuk kebocoran data. “Untuk orang Dark Tracer, ini adalah dosa kalian menyediakan layanan palsu ke Pemerintah Indonesia dan memberikan informasi yang salah kepada para idiot.” Demikian Bjorka menyalak dalam Twitternya.
Seorang Hacker biasanya mempunyai sasaran dalam berbuat, yaitu menembus IP yang ditujunya sebagai jalan masuk menuju sistem yang dikelolanya. Sebuah komputer atau server di zaman sekarang ini ibarat sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan. Jalanan itu berupa saluran atau pipa internet. Sementara, sebagaimana rumah pada umumnya, ia mempunyai pintu dan jendela. Pintu dan jendela sebuah perusahaan itu biasanya berupa alamat e-mail untuk komplain atau form pendaftaran online. Kita pun sebagai pribadi, juga mempunyai pintu dan jendela, yang berupa akun Facebook dan Instagram, alamat e-mail, dan WhatsApp. Dari sana para Hacker akan memasuki IP kita. Pintu dan jendela rumah kita akan terbuka apabila kita ceroboh dalam menggunakan internet. Misalnya, kita sedang nongkrong di kafe dan menikmati layanan Wifi gratis yang disediakan. Dengan mudah pemilik kafe akan dapat melacak IP kita sebagai jalan masuk. Kecerobohan dapat juga terjadi kalau kita suka berselancar ke situs-situs porno, di mana kalau kita klik biasanya berisi jebakan untuk membuka pintu dan jendela komputer kita. Atau kita sering dibombardir dengan e-mail yang terus-menerus. Ketika kita penasaran untuk membukanya atau mengklik isi e-mail tersebut, hacker akan memuntahkan program yang menyebabkan ia dapat membongkar kode-kode rahasia atau password komputer, e-mail dan akun medsos kita. Hacker juga suka membuat website pishing, website yang mirip dengan website asli sehingga tertipu memberikan data-data kita ke website tersebut. Misalnya kita ingin mengganti kartu di sebuah bank, begitu kita google bank tersebut, ada website yang mirip dan kita tidak menyadari bahwa website itu milik Hacker. Begitu IP terbongkar, melalui aplikasi Telnet seorang Hacker dapat memberi perintah dan mengubek-ubek komputer kita.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!