Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026

SKETSA | Benturan Peradaban (VI)

ED
Minggu, 6 Maret 2022 | 06:52 WIB
Bagikan
SKETSA | Benturan Peradaban (VI)

Huntington melihat sebuah peradaban sebagai tatanan yang solid dan seragam, tanpa ada suatu perbedaan atau variasi yang beragam. Karenanya ia akan heran kalau melihat ada suatu negara seperti Indonesia yang mempunyai begitu banyak perbedaan, begitu banyak variasi dalam berbahasa, berkesenian, berpakaian, bercocok tanam, makanan, dan agama, namun dapat hidup secara damai tanpa suatu konflik yang berarti. Ia melihat suatu peradaban secara simplistis, secara taksonomi, dunia yang begitu luas berisi 7,8 milyar manusia – oleh Huntington dapat diklasifikasikan secara sederhana dengan 7 jenis peradaban. Huntington sangat bernafsu dalam memandang manusia dengan melakukan identifikasi. Manusia dengan mudah diidentifikasi Huntington sebagai bagian dari peradaban yang mana, manusia oleh Hntington akan dikategorikan menjadi salah satu anggota dari peradaban yang tujuh itu. Suatu cara pandang yang sudah ditinggalkan oleh para pemikir post modernis, di mana manusia sudah tidak sepantasnya lagi diidentifikasi sebagai ini atau itu, manusia tidak saatnya lagi dikategorisasikan sebagai bagian dari jenis ini atau jenis itu. Karena cara melihat manusia dengan cara identifikasi seperti itu akan menghilangkan karakter dari si manusia itu sendiri. Melihat dunia menjadi 7 peradaban, seharusnya ditolak sama sekali dalam pemikiran manapun.

Hal yang menonjol dari Huntington dalam mendikotomi peradaban Islam dan Barat adalah semangat Perang Salib yang terus terasa dalam memilah geografi dan menggali sejarah mengapa perbedaan itu ada. Dengan itu Islam diidentifikasi Huntington sebagai musuh Barat, yaitu Eropa dan Amerika. Tidak ada jalan untuk melihat Islam sebagai bagian dari “kita”, tetapi agama itu dipandang sebagai yang berbeda, yang bukan kita, karenanya harus dihindari, dan pada akhirnya dimusuhi. Sebuah stigma Perang Salib yang berlangsung sejak 10 abad yang lalu. Hal itu terlihat ketika ia menyebut peningkatan jumlah migran ke Eropa sebagai kecenderungan ke arah karakter “non-Eropa” sebagai bagian dari “produk” dekolonisasi. Sebagai hasilnya, orang-orang Barat merasa khawatir bahwa mereka kini sedang diinvasi bukan oleh pasukan perang ataupun tank-tank, tetapi oleh kaum migran yang berbicara dengan bahasa yang berbeda, memuja tuhan yang berbeda, memiliki kebudayaan mereka sendiri dan dikhawatirkan akan merebut pekerjaan mereka, mendiami tanah mereka, meninggalkan sistem kesejaheraan, dan menindas pandangan hidup mereka, serta kekhawatiran akan hilangnya identitas nasional. Pada awal 1990-an, dua pertiga migran Eropa adalah Muslim. Dan dalam hubungan dengan orang-orang Eropa, hanya sedikit menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka adalah “orang Eropa”. Itulah ketakutan yang melanda seluruh Eropa. Sikap yang tidak bersahabat dari masyarakat Eropa benar-benar aneh. Sedikit sekali orang Perancis merasa khawatir terhadap serangan dari Timur – orang-orang Polandia yang bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang Eropa dan Katholik. Dan sebagian besar kaum imigran Afrika non-Arab tidak menimbulkan kekhawatiran ataupun kebencian bagi mereka. Sikap tidak bersahabat hanya ditujukan kepada umat Islam. Kata imigre sinonim dengan Islam, yang kini menjadi agama terbesar kedua di Perancis, dan merefleksikan sebuah rasisme kultural dan etnis yang telah berakar secara mendalam dalam sejarah Perancis.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.