SKETSA | Benturan Peradaban (VI)
Sementara negara-negara Islam lainnya di luar ke 4 zona tersebut, seperti negara-negara Afrika Utara (Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya) sebenarnya secara geografis tidak terlalu mengkhawatirkan Amerika karena letaknya yang jauh dari Israel. Terjadinya penumbangan Muammar Khadafi di Libya lebih disebabkan oleh ulah Khadafi sendiri yang “bermulut besar” dan suka mencampuri urusan Palestina. Demikian pula konflik Amerika di Afghanistan, bukan disebabkan karena kepentingan minyak dan melindungi Israel, tetapi karena didorong oleh seorang anggota kongres Amerika asal Texas yang bernama Charlie Wilson. Dialah yang mendorong Amerika turut campur membantu Mujahidin melawan Rusia yang masuk ke Afghanistan pada tahun 1979. Rusia akhirnya meninggalkan Afghanistan pada tahun 1989, namun hal itu tidak membuat negeri itu beres. Perang saudara antar Panglima terus berlangsung, sampai akhirnya muncul Taliban di tahun 1994 yang didukung Pakistan dan Arab Saudi. Setelah peristiwa 9/11 di tahun 2001, Amerika mulai menyerang Taliban karena dianggap telah menyembunyikan Osama bin Laden.
Dari Mengamankan Minyak ke Islamphobia
Dari uraian di atas terlihat bahwa terjadi pergeseran tujuan mengapa Amerika berada di Timur Tengah. Menurut hemat saya, telah terjadi perubahan kepentingan dari semula Amerika ingin melindungi suplai minyak ke negaranya kemudian bergeser menjadi memusuhi Islam radikal. Hal itu telah menyebabkan musuh Amerika menjadi bertambah luas dan banyak. Sehingga pengelihatan Amerika menjadi paralaks: demi mencari satu orang pemimpin teroris, Amerika bersedia untuk mengebom suatu negara. Di mana upaya itu telah menjadikan Amerika menjadi Islamphobia dan berstatus negara kriminal, yang telah mengorbankan orang-orang yang tidak berdosa melalui bombardir udara. Effort yang luar biasa besar ini telah membuat ekonomi Amerika bangkrut dan rakyatnya tidak lagi sejahtera.
Noam Chomsky mempertanyakan Siapa sebetulnya teroris, Amerika atau pejuang Hamas? Dalam konteks Bush, misalnya, Chomsky juga mempertanyakan, siapa yang teroris, Osama bin Laden atau Bush atau Blair (PM Inggris). Dari perspektif ini, definisi terorisme itu sendiri menjadi bias. Presiden AS, George W. Bush, dalam sebuah pidatonya pernah menyatakan bahwa perang terhadap terorisme merupakan bentuk dari Perang Salib (Crusade) pertama abad 21. Dasar-dasar kebijakan politik yang disampaikan oleh Bush sebagai respon terhadap peristiwa 9/11 adalah menyeret pelaku terorisme untuk segera dapat diadili. Bagi Bush, 9/11 merupakan sebuah deklarasi perang yang dilakukan oleh musuh-musuh kebebasan terhadap Amerika. Bush mendeklarasikan War Against Terorism.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!