SKETSA | Benturan Peradaban (II)
Praktik dari peradaban negara besar terjadi dalam Uni Eropa yang pada tahun 1994 menempatkan Jerman dan Perancis sebagai negara inti. Dengan ambruknya Komunisme, maka Eropa yang baru adalah sebuah “garis tebal yang telah membentang berabad-abad yang memisahkan Kristen Barat dengan umat Islam dan masyarakat Ortodoks”. Garis itulah yang akhirnya menarik ke belakang sejarah Romawi Kuno abad IV dan lahirnya kekuasaan suci Romawi pada abad X, yang hingga sekarang telah berjalan 500 tahun. Mulai dari Utara, ia membentang di sepanjang perbatasan Finlandia dan Rusia serta negara-negara Baltik (Estonia, Latvia, Lithuania) dan Rusia, di sepanjang wilayah perbatasan Belarus Barat dan Ukraina, yang kemudian memisahkan wilayah Barat dari Timur Ortodoks, Rumania, Transylvania, dengan penduduk Katolik Hongaria dan sekitarnya, dan meliputi bekas-bekas Yugoslavia yang membentang di sepanjang perbatasan yang memisahkan antara Slovenia dan Kroasia dari republik-republik lainnya. Di wilayah-wilayah Balkan garis perbatasan ini memiliki keterkaitan dengan pembagian historis antara Austro-Hongaria dan wilayah Utsmani. Itulah batas kultural Eropa, dan pada paska Perang Dingin, ia sekaligus merupakan batas wilayah politis dan ekonomi antara Eropa dan Barat. Sampai paragraf ini akhirnya menjadi jelas bahwa cara Huntington mendefinisikan peradaban Barat tidak terlepas dari semangat Perang Salib.
Kalau begitu Perang Salib itu apa sih? Kita lanjutankan besok ……***
(Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!