SKETSA | Benturan Peradaban (II)
Dengan semakin meningkatnya sentimen Islamis, penguasa Turki berusaha mengadopsi praktik-praktik fundamentalis. Kantor Urusan Agama diberikan anggaran yang lebih besar, menteri-menterinya membiayai pembangunan mesjid-mesjid, memasukkan pelajaran agama di sekolah-sekolah umum. 70 tahun setelah Attaturk melarang orang-orang Turki menggunakan fez (tarbus), pemerintah Perancis malah mengizinkan mahasiswi-mahasiswi Muslim menggunakan pakaian tradisional Muslim. Kebijakan tersebut sebagian besar didorong oleh keinginan pemerintah untuk memberikan angin segar di kalangan umat Islam yang berhembus begitu kencang di tahun 90-an. Kebangkitan Islam mengubah karakter politik masyarakat Turki. Para pemimpin politik, di antaranya yang terkenal adalah Turgut Ozal, secara eksplisit mengidentikkan diri dengan simbol-simbol dan kebijakan Islam. Di Turki, sebagaimana yang terjadi di wilayah-wilayah lain, demokrasi semakin memperkuat pribumisasi dan upaya-upaya untuk kembali kepada agama. Menarik untuk didiskusikan, seandainya Turki diterima dengan baik sebagai warga Uni Eropa, dan diperbolehkan masuk ke dalam MEE, apakah gerakan Islamisasi akan terjadi di Turki? Penolakan Eropa terhadap Turki telah membuat Turki pada tahun 1990-an aktif memberikan dukungan kepada Bosnia dan Azerbaijan, sejak itu kebijakan luar negeri Turki cenderung Islamicized.
Negara-negara Inti
Selama Perang Dingin, tatanan yang ada merupakan produk dari dominasi negara-negara superpower yang terbagi dalam dua blok. Dalam dunia yang “sedang lahir kembali”, kekuatan global sudah tidak ada lagi, dan komunitas global hanyalah mimpi. Komponen-komponen tatanan dunia sekarang ini nampaknya lebih kompleks dan heterogen. Tatanan dunia hanya akan terbentuk kembali melalui negosiasi dengan negara-negara inti, negosiasi antar peradaban. Bagaimana dengan Indonesia, mau bernegosiasi dengan siapa? Cina atau Amerika?
Nantinya, menurut Huntington, akan ada sebuah dunia yang di dalamnya negara-negara inti memainkan peran utama atau dominan dalam wilayah, sekaligus sebuah dunia yang dijadikan “tempat permainan” dan “dominasi” negara inti dikarenakan adanya kesamaan kultur dan peradaban antara masing-masing negara anggota. Kesamaan kultural memberikan legitimasi bagi “kepemimpinan” dan “dominasi” negara inti. Sebuah negara inti dapat menjalankan fungsinya apabila negara-negara anggota mengakuinya sebagai “satu rumpun” budaya. Sebuah peradaban adalah sebuah “negara besar”, dan sebagaimana halnya dengan anggota-anggota yang lebih tua dari suatu keluarga, negara-negara inti memberikan dukungan dan menerapkan berbagai disiplin di antara mereka. Hal ini mengingatkan saya pada propaganda Kekaisaran Jepang di tahun 1942 dengan “Gerakan 3 A” (Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia) yang bertujuan mendapat dukungan rakyat Indonesia agar mau membantu Jepang. Akibat dari gerakan ini, Indonesia kemudian mengirim Romusha dan Jugun Ianfu untuk dipekerjakan di Birma.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!