SKETSA | Bali
Demikian pula transportasinya. Bagi saya yang pernah mengalami Kuta yang sepi dan sekarang menjadi malas datang karena demikian macet. Maka saya saat ini lebih terhibur dengan menginap pada rumah penduduk desa di Ubud, dan ke mana-mana cukup berjalan kaki. Ketimbang mengalami hiruk-pikuk di Sanur dan Kuta (sekarang Jimbaran juga crowded). Kalau Bali macet terus lama-lama ia mirip Jakarta, keunikannya akan hilang, dan turis cepat atau lambat akan berkurang, mencari daerah lain yang lebih ramah (kepada lingkungan dan kepada orang asing atau pendatang). Karenanya, keresahan Jean Couteau ini harus kita dengarkan.***
- Penulis, pengamat seni dan pernah menjadi juri dalam Bandung Contemporary Art Award (BaCAA), mantan executive di beberapa perusahaan telekomunikasi, pernah bersekolah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020), menulis buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018), dan buku “Seni Sebagai Pembebasan” (2022), pernah berpameran tunggal lukisan di Galeri Titik Dua, Ubud (2021), saat ini menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi (jurnaldekonstruksi.id)
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!