SKETSA | Bali
Padahal di tahun 1975 ketika ia masih belajar mengenai budaya dan cara hidup orang Bali, ia melihat sikap masyarakat yang menerima orang asing atau pendatang sebagai saudara. Ketika ia ditanya oleh seorang petani, apa agamanya, ia menjawab Katholik. Maka petani itu mengatakan bahwa semua agama itu sama. Karena tuhannya orang Katholik adalah Yesus, yang masih kerabat dengan dewa Wisnu. Petani itu kemudian melanjutkan bahwa orang Islam punya Nabi yang bernama Muhammad SAW. Nah, huruf W pada S.A.W. itu sebetulnya merupakan akronim dari Wisnu. Walau anekdot itu terlihat dangkal namun mencerminkan sikap masyarakat yang menghilangkan perbedaan terhadap asal dan agama kaum pendatang seperti dirinya.
Tetapi di zaman sekarang situasinya sudah berbeda, terutama setelah terjadi peristiwa bom Bali. Ketika bom Bali terjadi, orang Bali tidak menyalahkan orang Islam, namun mereka menyalahkan bahwa bencana itu terjadi karena adanya impurities yang berupa banyaknya orang bermabuk-mabukan di bar. Dan impurities itu harus dibersihkan secara kosmis melalui upacara sehingga mala atau bencana hilang. Di samping, orang Islam juga banyak membantu para korban dan sedikit banyak membantu pemulihan ekonomi juga. Namun dalam perkembangan kemudian, telah muncul gerakan-gerakan ekstrim yang ingin memurnikan agama Hindu agar berkiblat kepada Hindu yang di India. Gerakan itu juga merebak dalam Pilkada di mana isu identitas Bali dimunculkan, sehingga ada istilah Bali dan non-Bali. Menurut Jean, langkah segregasi ini sudah struktural karena menjadi bahan jualan politik beberapa tokoh di DPRD dan DPD. Hal ini yang menjadi sumber keresahannya dalam mengenang perkembangan Bali selama 50 tahun ke belakang.
Saya sendiri melihat banyak aturan yang dahulu sudah berlangsung baik kemudian ditinggalkan. Ketika saya masih aktif melakukan pembangunan proyek-proyek Di Bali di tahun 80an, membangun di Bali itu tidak mudah. Demikian pula dalam pelaksanaannya. Arsitektur diawasi ketat oleh Pemda setempat agar tetap bergaya Bali. Sehingga tukang yang khusus mengukir elemen-elemen estetis dalam sudut-sudut rumah, dari pagar sampai atap menjadi laku keras. Namun sekarang saya melihat pembangunan vila di mana-mana yang wujudnya mirip rumah-rumah di Jakarta. Pembangunan menjadi bebas-bebas saja, asalkan investor berdatangan. Hal itu yang membuat Bali menjadi rusak.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!