SKETSA | Arab
Oleh Syakieb Sungkar
WAKTU kecil perawakan saya biasa-biasa saja, walau ketika itu tubuh saya sedikit lebih tinggi dibanding anak-anak seumur, yang berbeda adalah hidung saya sedikit lebih lancip dibandingkan teman-teman saya. Namun yang paling mencolok itu, nama yang diberikan ayah saya, yang membuat saya tidak bisa menghindar untuk tidak disebut sebagai keturunan Arab.
Bagi anak kampung seperti saya, hal yang berbeda itu justru menjadi bahan olok-olok. Arab bagi orang-orang kampung diatribusi dengan titit yang panjang dan onta. Berbeda - menurut filsuf Emmanuel Levinas - adalah "Yang Lain", yang bukan bagian dari kita. Karena dia berbeda maka dia bukan kita, sehingga - secara bawah sadar yang berbeda itu menjadi ancaman. Dan karena menjadi ancaman, maka dia harus 'diserang', setidaknya dengan kata-kata. Dipersekusi, istilah sekarangnya. Jadi teman-teman saya itu suka 'ngatain' saya dengan kalimat-kalimat, yang salah satunya masih saya ingat, seperti ini: "Arab jinjing makan tai anjing".
Sampai sekarang saya tidak tau apa artinya, namun kalimat itu sebenarnya cukup puitik. Ada akhiran "ing" yang berulang dari kata jinjing dan anjing. Pengulangan kata itu mirip mantra, ada perasaan senang bagi yang mengucapkannya dan perasaan sakit bagi orang yang ditujunya. Tentu saja saya kemudian marah dan membalas dengan 'ujaran-ujaran kebencian' tandingan. Berbeda dengan teman saya yang dengan mudah mencari 'titik lemah ke-arab-an' saya untuk di-olok-olok, maka saya sendiri harus sedikit putar otak untuk mencari 'kelemahan' spesifik teman saya satu persatu untuk menjadi bahan ejekan balasan.
Teman-teman kecil saya itulah yang membuat saya menjadi terlatih melakukan perang kata-kata. Dan 'latihan' itu cukup berpengaruh kepada saya sampai sekarang. Semakin bertambah usia, justru sayalah yang memulai mengganggu orang dengan kata-kata. Namun dengan frasa dan kehalusan bahasa yang lebih canggih tentunya. Sehingga yang mendengarnya menjadi panas hati sekaligus tertawa. Di rumah, saya dijuluki sebagai "provokator" karena suka mengadudomba. Dan kebiasaan di rumah itu menjalar juga ke kantor. Sebenarnya untuk lucu-lucuan saja, dan membuat gembira.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!