SKETSA | Arab
Tetapi ya, sekarang ini, Arab bukan lagi menjadi bahan olok-olok, seperti saya kecil dulu. Bagi sebagian orang, Arab sekarang ini menjadi sumber kekaguman. Malah saat ini banyak sekali orang kampung yang ingin 'menjadi Arab' dengan berpakaian seperti orang Arab, laki-lakinya memakai longdress dan kafiyeh serta berbicara dengan logat yang di-arab-arab-kan. Sambil membangga-banggakan serta memuja ustadz-ustadz keturunan Arab. Nampaknya keturunan Arab ini, dalam pandangan saya, "sudah merajalela". Sampai-sampai orang rela memilih dengan suka hati Gubernur Arab yang bego itu. Untuk saya hal ini cukup menggelikan.
Apa yang terjadi dengan Indonesia saat ini? Saya yang sebenarnya 'ga suka' menjadi seorang keturunan Arab, sementara ada banyak orang sekarang ini yang begitu tergila-gila dengan keturunan Arab, sampai-sampai ingin memilihnya menjadi presiden.
Hati kecil saya mengatakan begini, “kalau kelewatan akan muncul reaksi yang berbalik”. Dalam Caping Goenawan Mohamad Desember 2021 lalu, orang di Jawa ternyata pernah marah, “Mereka orang pendatang yang diizinkan tinggal di Jawa tapi berniat menghancurkan Majapahit …… Para wali membalas kebaikan baginda dengan lemparan tahi”. Hal itu tercantum dalam Serat Darmagandul yang digubah pada tahun 1830. Darmagandul melihat “Arab” dengan purbasangka negatif. Darmagandul tidak sendirian, adalagi Serat Cabolek yang memberi nada serupa. Sebagai penggemar dongeng dan sejarah, saya melihat kehidupan itu seperti pendulum, suatu saat bisa saja arah berbalik. Karena itu, janganlah jumawa.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!