SKETSA | Al Aqsa
Masjid Al Aqsa merupakan masjid pertama yang mempunyai kubah. Masjid ini memiliki 7 buah lorong yang ditunjang oleh tiang-tiang melengkung bergaya hypostyle nave, serta dilengkapi beberapa ruang kecil tambahan di sisi sebelah Barat dan Timur. Terdapat 121 jendela kaca patri dari era Abbasiyah dan Fatimiyah yang berdiri kokoh hingga saat ini. Sebagian besar ruangan masjid didominasi marmer berwarna putih dengan balutan karpet merah yang terlihat anggun. Kubah masjid dulunya terbuat dari batu yang dibangun langsung oleh Abdul Malik bin Marwan. Namun sekarang sudah diganti oleh Azh-Zahir dengan desain terbaru yaitu kayu yang disepuh dengan lapisan enamel timah. Interior kubah dicat mengikuti dekorasi khas abad 14. Kemudian pada masa pemerintahan Ottoman Khalifah Suleiman, lapisan emas yang khas ditambahkan ke kubah bersama dengan ubin Ottoman ke fasad bangunan. Di dalam Al-Aqsa terdapat empat bangunan tempat sholat. Bangunan terbesarnya memiliki kubah emas bernama Qubbatus Saqara atau sering disebut dengan Dome of The Rock. Ditambah dengan Musholla Al Mawarni, Kubah Al Mi’raj, Kubah As Silsilah, Kubah An Nabi, dan beberapa bangunan lain.
Masjid Al Aqsa juga menjadi tempat persinggahan Isra’ Mi’raj, ketika Nabi Muhammad dipertemukan langsung dengan Sang Pencipta, sesuai dengan yang dikatakan Tuhan dalam Surat Al Isra. Nabi didampingi Malaikat Jibril dengan mengendarai Buraq, untuk kemudian menuju Sidratul Muntaha untuk berjumpa dengan Allah SWT. Dengan sejarah yang begitu agung, bila Israel mengutak-atik Masjid Aqsa itu merupakan masalah hidup dan mati bagi umat Islam. Karena Netanyahu telah memicu titik sensitif yang tidak pernah akan bisa didamaikan sampai kapan pun.
Saya berkunjung ke Al Aqsa sebenarnya hanya kebetulan. Kala itu saya diundang Amdocs, perusahaan Billing System terbesar di dunia, untuk datang ke Tel Aviv. Ternyata untuk sampai ke Israel itu membutuhkan pemeriksaan yang berbelit-belit. Pertama, saya harus datang ke Kedutaan Israel yang ada di Singapura. Di sana saya harus diinterogasi oleh orang-orang yang mirip dengan tukang pukul dalam film spionase: berkepala yang cukurannya pendek hampir botak, muda, langsing, berbaju putih, berjas, berpantalon dan berdasi hitam, rapi. Mereka bertanya berulang-ulang siapa yang mengundang, tujuannya apa dan sebagainya. Kemudian mereka menelpon Amdocs Israel, mengecek apa benar telah mengundang saya. Setelah diinterogasi di jalanan dan sambil berdiri, serta dinyatakan ‘lulus’, baru saya diperbolehkan masuk ke Kedutaan yang jaraknya kira-kira 100 meter dari tempat interogasi, untuk mendapatkan Visa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!