Sifilis Tak Pandang Siapa, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Pemeriksaan Dini
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 18 Juni 2025 | 00:00 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Jumlah penderita sifilis di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2024, tercatat lebih dari 23.000 kasus. Sementara secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 8 juta orang berusia 15–49 tahun terinfeksi sifilis pada 2022.
Sifilis, yang juga dikenal dengan sebutan raja singa, adalah penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini bisa menular tidak hanya melalui hubungan seksual, tetapi juga lewat kontak langsung dengan luka, termasuk lewat ciuman atau sentuhan kulit, bahkan dari ibu ke bayi.
“Sifilis gak pilih-pilih. Yang gak ‘nakal’ pun bisa kena. Karena itu, jangan cuma jaga image. Jaga kesehatanmu juga!” tulis Kemenkes melalui unggahan di akun Instagram resminya, Selasa (17/6/2025).
Kemenkes juga menyebut stigma dan rasa malu menjadi faktor penghambat masyarakat untuk memeriksakan diri. Padahal, sifilis sering kali tidak menimbulkan gejala yang kentara dan bisa berujung pada komplikasi serius jika tidak ditangani.
Tahapan dan Gejala Sifilis:
Sifilis berkembang melalui empat tahap: primer, sekunder, laten, dan tersier. 1. Tahap primer: Ditandai luka kecil (chancre) yang tidak nyeri, muncul sekitar 3 minggu setelah terinfeksi. Luka bisa tersembunyi dan sembuh sendiri dalam 3–6 minggu. 2. Tahap sekunder: Muncul ruam di tubuh, telapak tangan, atau kaki. Bisa disertai gejala seperti kelelahan, demam, rambut rontok, atau luka mirip kutil di area genital. 3. Tahap laten: Tidak ada gejala, tetapi bakteri tetap aktif di tubuh dan bisa merusak organ vital, termasuk otak dan jantung. 4. Tahap tersier: Bisa terjadi 10–20 tahun kemudian dan menyebabkan kerusakan otak, kebutaan, demensia, gangguan otot, hingga kematian.Bahaya Sifilis pada Bayi (Sifilis Kongenital):
Ibu hamil yang terinfeksi sifilis dapat menularkan penyakit ini kepada bayi, baik saat dalam kandungan maupun saat proses persalinan. Gejalanya pada bayi bisa berupa ruam, anemia, pembengkakan hati, atau gangguan tulang. Tanpa pengobatan, kondisi ini bisa menyebabkan kecacatan bahkan kematian. Meningkatnya kasus sifilis menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran dan pemeriksaan rutin, bukan hanya pada kelompok berisiko tinggi. Gejala sering tidak disadari, sementara akibatnya bisa sangat fatal. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak malu memeriksakan diri demi mencegah penyebaran lebih luas. @ffrBerita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!