Serangan Terbesar Hantam Iran, Dunia Cemas Perang Meluas
Namun dari Teheran, nada pernyataan yang muncul justru semakin keras. Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya tidak akan menyerah pada tekanan militer.
“Kami tidak mencari gencatan senjata. Agresor harus dipukul keras agar mereka belajar dari kesalahan mereka,” tulisnya dalam pernyataan di media sosial.
Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, korban jiwa terus bertambah. Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas akibat serangan udara, sementara ribuan rumah dan ratusan fasilitas publik rusak atau hancur.
Dengan kedua pihak saling melancarkan serangan dan retorika keras, masa depan konflik masih belum jelas. Meski sebagian analis percaya perang dapat segera berakhir, intensitas pertempuran di lapangan menunjukkan bahwa eskalasi masih jauh dari kata mereda. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!