Serangan Drone Hantam Pabrik Air Bahrain, Ancaman Baru di Kawasan Teluk

ED
Senin, 9 Maret 2026 | 14:17 WIB
Bagikan
Serangan Drone Hantam Pabrik Air Bahrain, Ancaman Baru di Kawasan Teluk

Ketergantungan ini membuat fasilitas desalinasi menjadi aset strategis yang sangat sensitif. Kerusakan pada satu fasilitas saja dapat memengaruhi pasokan air bersih bagi kota-kota besar dalam waktu singkat.

Secara sederhana, desalinasi adalah proses mengubah air laut menjadi air tawar yang layak dikonsumsi. Proses ini dilakukan dengan cara menghilangkan garam serta mineral yang terkandung di dalam air laut. Dalam literatur ilmiah, Nair dan Kumar (2013) menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan produksi air minum murni dari sumber air asin seperti laut maupun air payau.

Teknologi desalinasi juga memiliki berbagai kegunaan lain. Selain untuk air minum, air hasil pemurnian dapat digunakan untuk kebutuhan industri tertentu. Dalam penelitian Ahmed dkk. (2021), air ultra-murni dari proses desalinasi bahkan digunakan dalam industri farmasi. Sementara itu, Son dkk. (2021) menyebut teknologi tersebut juga berperan dalam industri pengolahan makanan.

Meski memiliki manfaat besar, proses ini bukan tanpa tantangan. Salah satu dampak lingkungan yang sering dibahas adalah limbah air garam berkonsentrasi tinggi yang dihasilkan dari proses pemurnian. Limbah tersebut memiliki kandungan garam dan bahan kimia yang sangat pekat.

Peneliti Pramanik dkk. (2017) menyebut limbah tersebut sebagai “air garam”, yakni sisa proses desalinasi dengan kadar total padatan terlarut yang sangat tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini dapat memengaruhi ekosistem laut di sekitarnya.

Meski demikian, kebutuhan akan air bersih membuat teknologi ini tetap menjadi pilihan utama. Dalam artikel ilmiah “Desalination in the GCC Countries, A Review” yang diterbitkan di jurnal Cleaner Production (2022), disebutkan bahwa desalinasi kini dianggap sebagai solusi paling realistis untuk memenuhi peningkatan permintaan air di dunia.

Perkembangan teknologi desalinasi di kawasan Teluk sendiri tak bisa dilepaskan dari sejarah industri minyak. Peneliti Eltamaly dkk. (2021) menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia pada tahun 1973 menjadi titik balik penting bagi negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC).

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.