Selat Hormuz Ditutup, Indonesia Cari Pasokan Migas Alternatif
“Apalagi kita telah menandatangani perjanjian perdagangan baru dengan Amerika Serikat,” tambahnya.
Meski demikian, Eddy mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar terkait ketahanan energi nasional, terutama dalam hal cadangan strategis migas. Saat ini, cadangan energi nasional dinilai masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan negara-negara lain.
Menurut Eddy, cadangan strategis migas Indonesia saat ini hanya mampu bertahan sekitar 20 hari apabila terjadi gangguan pasokan. Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko jika terjadi situasi darurat di mana distribusi energi benar-benar terhenti.
“Yang menjadi permasalahan adalah terkait cadangan strategis nasional migas yang memang 20 hari usianya,” kata Eddy.
Ia menjelaskan bahwa selama Indonesia masih dapat mengakses pasokan energi dari negara lain, kondisi tersebut masih dapat dikelola. Namun risiko besar dapat muncul apabila terjadi skenario terburuk di mana suplai bahan bakar benar-benar terputus.
“Ketika kita kemudian memiliki akses untuk tetap mendapatkan pasokan BBM, tentu itu tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi ketika dalam kondisi terburuk, pasokan BBM itu kemudian menjadi terhenti sama sekali, Indonesia memang tidak memiliki bantalan yang cukup besar untuk bisa bertahan dari ketersediaan BBM yang kita miliki,” jelasnya.
Karena itu, Eddy mendorong pemerintah untuk mulai memperkuat cadangan strategis energi nasional sebagai langkah antisipatif menghadapi dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu.
Ia mengusulkan agar Indonesia secara bertahap meningkatkan kapasitas cadangan migas dari yang saat ini hanya sekitar 20 hari menjadi minimal 30 hari atau bahkan lebih.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!