Segini Kerugian Pizza Hut Delivery (PHD) Akibat Kampanye Boikot Produk Israel
VISI.NEWS | BANDUNG - Pizza Hut Delivery (PHD) merupakan salah satu produk yang menjadi sasaran kampanye boikot produk Israel yang marak di media sosial. Kampanye ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina yang mengalami penindasan dan kekerasan oleh Israel.
Namun, apakah kampanye boikot ini berdampak signifikan terhadap kinerja PHD di Indonesia? Berdasarkan laporan keuangan PT Sarimelati Kencana Tbk. (PZZA), perusahaan yang mengelola PHD di Indonesia, ternyata PHD masih mengalami kerugian hingga kuartal III 2023.
Pada periode Januari-September 2023, PZZA mencatatkan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp38,95 miliar. Jumlah ini naik 9,74% dari kuartal III 2022 yang mencatatkan rugi Rp35,49 miliar.
Meskipun penjualan bersih PZZA meningkat 4,36% year-on-year (YoY) menjadi Rp2,75 triliun, namun beban pokok penjualan juga membengkak 8,71% YoY menjadi Rp927,88 miliar. Selain itu, beban penjualan juga meningkat 2,96% YoY menjadi Rp1,67 triliun.
Akibatnya, laba bruto PZZA hanya tumbuh 2,28% YoY menjadi Rp1,82 triliun, dan rugi sebelum pajak penghasilan mencapai Rp48,26 miliar, naik dari tahun lalu yang sebesar Rp40,14 miliar.
Corporate Secretary PZZA Kurniadi Sulistyomo tidak memberikan tanggapan spesifik mengenai dampak kampanye boikot terhadap kinerja perusahaan. Dia hanya mengatakan bahwa perseroan menghormati segala bentuk aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat.
"Untuk saat ini lebih bijaksana jika kami menghormati aspirasi demokrasi yang berjalan," ujarnya kepada Bisnis.com.
Sementara itu, KFC dan Pizza Hut yang berada di bawah perusahaan Yum! Brands memang belum memberikan pernyataan resmi. Namun, produk-produk tersebut menjadi target boikot karena cabangnya yang ada di Israel dianggap secara terang-terangan mendukung penjajahan Palestina.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!