SCG Umumkan Hasil Operasi H1/2024, Genjot Pertumbuhan Berkelanjutan Lewat Adaptasi Strategis, Manajemen Biaya, dan Inovasi
Per 30 Juni 2024, total aset SCG mencapai Rp420,2 triliun (USD 25,8 miliar). Dari jumlah tersebut, total aset SCG di ASEAN (selain Thailand) adalah Rp192,3 triliun (USD 11,8 miliar) dengan total aset Indonesia mencapai Rp50,2 triliun (USD 3 miliar) atau 12% dari aset konsolidasi SCG di semua negara.
Thammasak Sethaudom, President & CEO SCG, menjelaskan, “Meskipun SCG terkena dampak dari lesunya bisnis petrokimia, ketegangan konflik geopolitik, persaingan pasar yang intens dari impor Tiongkok, dan pemulihan ekonomi domestik yang lambat akibat daya beli yang lemah di kalangan kelompok pendapatan menengah ke bawah, SCG secara aktif meningkatkan ketangkasan bisnis dan ketahanan operasional melalui beberapa langkah strategis: 1) Manajemen biaya energi, misalnya bisnis semen di Thailand yang telah meningkatkan penggunaan bahan bakar alternatif menjadi 47% dan produksi semen di Indonesia yang telah menggunakan bahan bakar alternatif mencapai 19,6% dari total bahan bakar dan akan terus bertambah; 2) Fokus pada bisnis berkelanjutan berpotensi tinggi, seperti solusi energi surya komprehensif untuk pasar residensial, pabrik, dan kawasan industri; 3) Peningkatan sistem penyimpanan, transportasi, dan distribusi produk dengan memanfaatkan teknologi untuk perencanaan pengiriman dan penerimaan barang guna mengurangi waktu kerja, meminimalisasi kerusakan, dan mengurangi kesalahan dalam proses penerimaan dan pengiriman; 4) Penerapan Kecerdasan Buatan (AI) untuk efisiensi operasi, di mana SCG Chemicals memanfaatkan solusi AI dari REPCO NEX untuk mengelola pemeliharaan mesin secara tepat dan mencapai keandalan 100%; dan 5) Menyediakan solusi yang memenuhi kebutuhan fungsional dan harga pelanggan, seperti truk mixer beton compact dari CPAC yang dirancang untuk konstruksi perkotaan dengan gang-gang sempit, mampu mengangkut hingga 2 meter kubik beton per perjalanan, memfasilitasi penggunaan semen yang efisien dan mengurangi limbah.”
Bisnis semen dan konstruksi diuntungkan dari pemulihan ekonomi yang kuat di Indonesia dan Vietnam. Daya beli mulai pulih, didorong oleh inisiatif Pemerintah Indonesia untuk mempercepat pembangunan dan pengembangan infrastruktur Ibu Kota Nusantara (IKN). Selain itu, Pemerintah Vietnam mempromosikan Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment). Sebaliknya, pemulihan di Thailand tetap lambat akibat penurunan permintaan musiman dan penundaan alokasi anggaran pemerintah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!