Sampah Gelas Plastik AMDK Membeludak, Ancaman Serius bagi Lingkungan
Editor
Desi Rossilawati
Senin, 10 Maret 2025 | 20:40 WIB
VISI.NEWS | BANDUNG - Hasil audit yang dilakukan oleh Net Zero Waste Management Consortium (NZWMC) pada tahun 2023 mengungkap bahwa sampah gelas plastik dari air minum dalam kemasan (AMDK) menjadi salah satu penyumbang terbesar timbunan sampah plastik di enam kota besar di Indonesia yaitu Medan, Samarinda, Makassar, Denpasar, Surabaya, dan DKI Jakarta.
Dalam laporan tersebut, kemasan gelas plastik menempati posisi kedua dengan total 135.383 buah, sementara botol plastik air minum ditemukan sebanyak 87.633 buah. Masifnya penggunaan gelas plastik sekali pakai dan belum optimalnya sistem daur ulang menjadi penyebab utama tingginya jumlah sampah jenis ini.
Ahmad Safrudin dari NZWMC menyatakan bahwa kemasan gelas plastik lebih banyak ditemukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dibandingkan jenis sampah plastik lainnya. Ini menunjukkan bahwa industri daur ulang masih belum mampu menyerap sampah gelas plastik dengan optimal.
Hal tersebut dibenarkan oleh CEO Kita Bumi Global, Hadiyan Faris Azhar, yang menjelaskan bahwa gelas plastik memiliki tingkat penyusutan yang tinggi dalam proses daur ulang. Dari 100 kg sampah gelas plastik yang dikumpulkan, hanya sekitar 40 kg yang benar-benar dapat diolah kembali.
Penyusutan ini terjadi karena gelas plastik terdiri dari berbagai komponen, seperti tutup plastik, sedotan, serta cairan sisa di dalamnya. Proses pemilahan dan pembersihan yang rumit membuat biaya daur ulang semakin tinggi, sehingga kurang diminati oleh industri.
Ketidakterserapan gelas plastik dalam sistem daur ulang menyebabkan penumpukan di TPA dan pencemaran lingkungan, terutama di perairan Indonesia. Studi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2019 menunjukkan bahwa plastik berukuran kecil, seperti gelas plastik, merupakan kontributor utama pencemaran sungai dan laut.
Sampah plastik ini bisa terfragmentasi menjadi mikroplastik, yang berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia. Selain itu, sifatnya yang ringan dan mudah terbawa angin membuat gelas plastik banyak ditemukan di pesisir dan perairan, memperburuk kondisi lingkungan laut.
Di samping dampak pada ekosistem, sampah plastik di TPA juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, seperti metana dan karbon dioksida, yang mempercepat perubahan iklim.
Masalah sampah gelas plastik AMDK yang kian membeludak menunjukkan perlunya solusi yang lebih baik, seperti optimalisasi sistem daur ulang, kebijakan produsen untuk bertanggung jawab terhadap limbah produknya, dan edukasi masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Upaya bersama dari pemerintah, industri, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar masalah ini tidak semakin parah di masa depan. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!