Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026

Sampah Gelas Plastik AMDK Membeludak, Ancaman Serius bagi Lingkungan

Desi Rossilawati
Senin, 10 Maret 2025 | 20:40 WIB
Bagikan
Sampah Gelas Plastik AMDK Membeludak, Ancaman Serius bagi Lingkungan
VISI.NEWS | BANDUNG - Hasil audit yang dilakukan oleh Net Zero Waste Management Consortium (NZWMC) pada tahun 2023 mengungkap bahwa sampah gelas plastik dari air minum dalam kemasan (AMDK) menjadi salah satu penyumbang terbesar timbunan sampah plastik di enam kota besar di Indonesia yaitu Medan, Samarinda, Makassar, Denpasar, Surabaya, dan DKI Jakarta. Dalam laporan tersebut, kemasan gelas plastik menempati posisi kedua dengan total 135.383 buah, sementara botol plastik air minum ditemukan sebanyak 87.633 buah. Masifnya penggunaan gelas plastik sekali pakai dan belum optimalnya sistem daur ulang menjadi penyebab utama tingginya jumlah sampah jenis ini. Ahmad Safrudin dari NZWMC menyatakan bahwa kemasan gelas plastik lebih banyak ditemukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dibandingkan jenis sampah plastik lainnya. Ini menunjukkan bahwa industri daur ulang masih belum mampu menyerap sampah gelas plastik dengan optimal. Hal tersebut dibenarkan oleh CEO Kita Bumi Global, Hadiyan Faris Azhar, yang menjelaskan bahwa gelas plastik memiliki tingkat penyusutan yang tinggi dalam proses daur ulang. Dari 100 kg sampah gelas plastik yang dikumpulkan, hanya sekitar 40 kg yang benar-benar dapat diolah kembali. Penyusutan ini terjadi karena gelas plastik terdiri dari berbagai komponen, seperti tutup plastik, sedotan, serta cairan sisa di dalamnya. Proses pemilahan dan pembersihan yang rumit membuat biaya daur ulang semakin tinggi, sehingga kurang diminati oleh industri. Ketidakterserapan gelas plastik dalam sistem daur ulang menyebabkan penumpukan di TPA dan pencemaran lingkungan, terutama di perairan Indonesia. Studi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2019 menunjukkan bahwa plastik berukuran kecil, seperti gelas plastik, merupakan kontributor utama pencemaran sungai dan laut. Sampah plastik ini bisa terfragmentasi menjadi mikroplastik, yang berbahaya bagi ekosistem perairan dan kesehatan manusia. Selain itu, sifatnya yang ringan dan mudah terbawa angin membuat gelas plastik banyak ditemukan di pesisir dan perairan, memperburuk kondisi lingkungan laut. Di samping dampak pada ekosistem, sampah plastik di TPA juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, seperti metana dan karbon dioksida, yang mempercepat perubahan iklim. Masalah sampah gelas plastik AMDK yang kian membeludak menunjukkan perlunya solusi yang lebih baik, seperti optimalisasi sistem daur ulang, kebijakan produsen untuk bertanggung jawab terhadap limbah produknya, dan edukasi masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Upaya bersama dari pemerintah, industri, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar masalah ini tidak semakin parah di masa depan. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.