Samber Ceu Pilah: Sampah Tuntas dari Rumah
Potensi terbesar Samber Ceu Pilah justru berasal dari sampah organik seperti sisa makanan, tulang, duri, biji, cangkang, sisa nasi, dan sayuran. Sampah ini diolah menjadi MOL (Mikro Organisme Lokal), POC (Pupuk Organik Cair), serta kompos atau POP (Pupuk Organik Padat) dengan volume mencapai 240 hingga 300 kilogram setiap dua hari.
Hasil pengolahan sampah organik dimanfaatkan langsung oleh warga untuk menanam sayuran, buah, bunga, serta mengembangkan TOGA (Tanaman Obat Keluarga). “Ini bukan hanya soal sampah, tapi juga soal ketahanan pangan masyarakat,” tambah Evi.
Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran aktif ibu-ibu PKK yang menjadi motor penggerak perubahan perilaku. Edukasi dilakukan secara berjenjang dari kelurahan, RW, hingga RT, serta dipantau melalui laporan harian aktivitas pemilahan sampah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengapresiasi pendekatan Kelurahan Sarijadi tersebut. Menurutnya, jika pengelolaan sampah selesai di tingkat rumah tangga, beban kota akan berkurang drastis. Ia pun mendorong agar Samber Ceu Pilah direplikasi di wilayah lain sebagai model pengelolaan sampah berbasis kewilayahan yang berkelanjutan.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!