Salat Jumat di Mesjid Kuncen dan Nikmatnya Nasi Pecel Legendaris Madiun
Perjalanan diawali dengan mengunjungi Alun-Alun Kota Madiun yang menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus ikon kota. Di kawasan ini berdiri megah Masjid Agung Baitul Hakim yang dibangun pada tahun 1830. Keberadaan masjid tersebut menjadi saksi perkembangan Islam sekaligus pusat kegiatan keagamaan masyarakat Madiun selama hampir dua abad.
Dari kawasan alun-alun, rombongan melanjutkan perjalanan menuju salah satu destinasi wisata yang belakangan menjadi magnet baru bagi wisatawan, yakni Pahlawan Street Center (PSC). Kawasan yang tertata modern ini menawarkan berbagai miniatur bangunan dan ikon dunia yang menarik perhatian pengunjung.
Di sepanjang area PSC, pengunjung dapat menemukan miniatur Ka'bah, Patung Liberty, Menara Eiffel, Big Ben, Kincir Angin Belanda, hingga berbagai ikon dunia lainnya. Kehadiran replika tersebut menjadikan kawasan ini sebagai lokasi favorit untuk berfoto sekaligus ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat.
Perjalanan sejarah kemudian berlanjut menuju Masjid Kuno Taman yang dibangun pada tahun 1754. Masjid tua ini menjadi salah satu bukti berkembangnya Islam di wilayah Madiun pada masa lampau. Arsitekturnya yang masih mempertahankan karakter bangunan tradisional Jawa menghadirkan nuansa religius sekaligus historis yang kuat.
Salah satu tujuan yang paling berkesan dalam perjalanan kali ini adalah kunjungan ke Masjid Kuno Kuncen atau Masjid Nur Hidayatullah. Masjid yang berdiri sejak tahun 1567–1568 tersebut, menurut Wardoyo (73) pengurus masjid setempat merupakan salah satu masjid tertua di Jawa Timur dan memiliki hubungan erat dengan sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa.
"Masjid ini didirikan oleh Pangeran Timur, putra Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak, pada 18 Juli 1568. Kehadiran masjid tersebut menjadi bagian penting dari proses dakwah Islam yang berkembang pesat di wilayah Madiun dan sekitarnya pada abad ke-16, " ungkap Wardoyo kepada VISI.NEWS.
Hingga saat ini, bangunan Masjid Nur Hidayatullah masih mempertahankan keaslian bentuknya. Beberapa bagian memang pernah direhabilitasi, namun dilakukan secara hati-hati untuk menjaga kekuatan struktur tanpa menghilangkan karakter asli bangunan bersejarah tersebut. Nuansa klasik terlihat jelas dari bentuk atap, konstruksi kayu, hingga tata ruang yang tetap mempertahankan ciri khas masjid kuno Nusantara.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!